2 Macam Istihzaa Yang Mengharuskan Kita Berlindung Daripadanya

Bismillah….

Dalam bab Nawawidul Islam atau Pembatal Keislaman, ada 10 poin utama yang bisa berpotensi membatalkan keislaman seseorang dan menjerumuskan pelakukanya kepada kekafiran, yang jika tidak segera bertaubat dan kembali kepada kebenaran, bisa membuatnya terlempar ke dalam neraka Jahannam, terlebih untuk mereka yang sudah ditegakkan hujjah… Na’udzubillah…

Oleh karena begitu dahsyat dan luar biasanya bencana yang diancamkan, sebagai umat Islam kita wajib untuk berlindung daripadanya, mendalami ilmu tentang pembatal-pembatal keislaman, agar kita bisa berhati-hati agar jangan sampai melakukan 10 poin utama yang dijelaskan dalam bab Nawaqidul Islam.

 

Tentang Istihzaa / Memperolok-olok Ajaran Agama Islam

Istihzaa adalah perbuatan seseorang atau sekelompok manusia yang memperolok-olok ajaran agama Islam yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan dan sampaikan melalui perantaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perbuatan Istihzaa ini termasuk ke dalam pembatal keislaman. Ada banyak sekali jenis perbuatan dan perkataan yang termasuk dalam kategori Istihzaa ini. Diantaranya meremehkan syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala, menganggap remeh sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallaam, serta meremehkan para sahabat.

Penjelasan tentang Istihzaa ini telah dikupas dalam kajian-kajian sebelumnya.

 

2 Macam Pembagian Istihzaa

Para ulama salaf telah menyebutkan, bahwa Istihzaa terbagi ke dalam 2 macam, yaitu : Istihzaa Shoriih (jelas, nyata), dan Istihzaa  Isyaaroh (isyarat).

 

  • Istihzaa Shoriih

Adalah Istihzaa yang dengan jelas, nyata, terang-terangan melakukan pelecehan atau memperolok-olok ajaran agama Islam, dengan perkataan dan perbuatan.

Untuk penjelasan lengkap tentang Istihzaa Shoriih ini bisa dibaca pada artikel lainnya yang Insyaa Allah akan di update di website malik.or.id ini, insyaa Allah

 

  • Istihzaa Isyaaroh

Adalah Istihzaa yang dilakukan dengan isyarat, seperti mencibir dengan bibir, isyarat yang menunjukkan bahwa dia meremehkan pun terhitung sebagai perbuatan Istihzaa walaupun dia tidak berkata apapun.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

 

almuthofiifiin 29

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman.

 

Dalam ayat ini, ditegaskan dengan kalimat “Inna” (sesungguhnya), yang menunjukkan bahwa sebelumnya keterangan yang disampaikan dalam ayat ini telah ditentang oleh mereka yang memperolok-olok ajaran Islam. Dan mereka tidak akan beruntung karena telah menertawakan orang-orang beriman, sebab perbuatan tersebut termasuk pada Istihzaa dengan isyarat.

 

Maka dari itu, setiap muslim harus benar-benar menjaga perkataan dan perbuatannya. Terlebih lagi apabila ucapan dan perbuatan tersebut dalam urusan syari’at, para ahli syari’at dan para ulama.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman :

 

qoff18

 

 

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”

 

Salah satu upaya penjagaan yang paling efektif adalah dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat, yang bersumber kepada Al-Qur’an dan Sunnah, karena sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan Furqon (pembeda), yakni Al-Qur’an yang untuk dijadikan pegangan dalam memisahkan antara yang Haq dan yang Bathil, yang benar dan yang salah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an :

 

al-anfal29

“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”

 

Dengan mendalami Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjadikan cahaya di hatinya berupa ilmu untuk mengetahui mana yang haq dan mana yang bathil.

 

***

 

Demikianlah penjelasan singkat tentang 2 macam Istihzaa yang bisa disampaikan pada kesempatan kali ini. Mudah-mudahan kita senantiasa berada dalam bimbingan dan perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan Istihzaa, baik yang nyata maupun isyarat.

 

Pada kesempatan lainnya, akan dijelaskan lebih lanjut tentang hal-hal lain yang dapat membatalkan keislaman. Insyaa Allah…

 
 
 
 
 
 

(Dijelaskan oleh Ustadz Rachmat Kurniawan, S.T. pada kajian rutin Rabu ba’da Maghrib di Mesjid Ash-Shiddiq yang diselenggarakan oleh Yayasan Imam Malik Bandung yang bekerjasama dengan DKM Ash-Shiddiq)

 

Hadiri kajian rutin yang membahas pembatal-pembatal keislaman ini setiap Rabu Ba’da Maghrib (Kajian bersifat umum dan terbuka untuk siapapun) – Silahkan ajak saudara, keluarga, dan sahabat untuk sama-sama menghadirinya.

 

Barokallahu fiikum…

 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *