2 Perbuatan yang Dianggap Ringan namun Berat Azabnya

Bismillah…

Dalam kesempatan kali ini akan kami bagikan faidah hadits yang penting untuk kita ketahui, dimana Beliau Shallallahu “Alaihi wa Sallam pernah menceritakan azab kubur yang di alami oleh dua orang. Yang satu disebabkan oleh namimah (menghasut dan adu domba). Sedangkan yang lain disebabkan karena tidak menjaga diri dari kencingnya.

مَرَّ الَّنبِيُّ صلي الله عليه وسلم عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِى كَبِيْرٍ. ثُمَّ قَالَ : بَلَى، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَسْعَى بِالنَّمِيْمَةِ، وَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَيَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ…الحـديث – متفق عليه

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kuburan. Beliau bersabda,”Sesungguhnya keduanya benar-benar sedang di azab. Dan keduanya tidak diazab dalam masalah besar,” kemudian Beliau bersabda: “Ya. Adapun salah seorang di antara mereka, dikarenakan ia berjalan dengan menebarkan namimah (adu domba). Sedangkan yang satunya lagi karena tidak menjaga diri dari kencingnya…”

 
 

 

Dalam redaksi hadits di atas telah diterangkan dengan jelas, bahwa kedua hal yang disebutkan bukanlah sesuatu masalah yang besar dalam anggapan kebanyakan manusia, sehingga dengannya mereka lalai dan mengabaikannya. Akan tetapi, hanya orang-orang yang dikaruniakan hidayah, taufik dan ilmu saja yang akan menjaga diri dan berhati-hati dalam urusan tersebut, yakni dalam urusan menjaga lisan untuk tidak menebarkan namimah (adu domba dan hasutan), serta lebih berhati-hati dan menjaga diri ketika kencing atau buang air besar. Dan azab tersebut sudah diancamkan kepada pelakunya sejak di alam kubur. Na’udzubillah.

 

Pengertian Namimah

 
Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan bahwa namimah adalah mengutip suatu perkataan dengan tujuan untuk mengadu domba antara seseorang dengan si pembicara.

Adapun Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalaani rahimahullah mengatakan bahwa namimah tidak khusus itu saja. Namun intinya adalah membeberkan sesuatu yang tidak suka untuk dibeberkan. Baik yang tidak suka adalah pihak yang dibicarakan atau pihak yang menerima berita, maupun pihak lainnya. Baik yang disebarkan itu berupa perkataan maupun perbuatan. Baik berupa aib ataupun bukan.

Selain azab kubur, banyak dalil yang telah menerangkan tentang ancaman yang akan diberikan kepada pelaku namimah, Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

 

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ

Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina,

 

هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah,

 

(QS. Al Qalam: 10-11)

 

dan di dalam hadits yang marfu’ diriwayatkan dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu disebutkan :

 

“Tidak akan masuk surga bagi Al Qattat (tukang adu domba).”

(HR. Al Bukhari)

 

Adapun penjelasan Ibnu Katsir terhadap dalil ini : “Al qattat adalah orang yang menguping (mencuri dengar pembicaraan) tanpa sepengetahuan mereka, lalu ia membawa pembicaraan tersebut kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba.”

Kalimat yang dikatakan “Tidak akan masuk surga…” seperti yang tersebut di dalam hadist tersebut di atas tidak memastikan bahwa pelaku namimah itu akan kekal di dalam neraka, akan tetapi maksudnya yaitu ia tidak bisa masuk surga secara langsung. Inilah aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah yang tidak memvonis dan mengkafirkan seorang muslim dikarenana dosa besar yang dilakukannya selama ia tidak menganggap perbuatan tersebut halal (terkecuali apabila dosa yang dilakukan sifatnya kekufuran yang besar seperti mempelajari dan mempraktekkan ilmu sihir).
 

 

Adab yang Harus Dilakukan Ketika Kencing

 
Sudah banyak manusia di zaman sekarang yang mengabaikan hal ini, dimana mereka bermudah-mudahan dan tidak menjaga diri ketika kencing. Padahal ada beberapa adab yang harus dilakukan ketika kencing, yang apabila tidak dilakukan bisa mendatangkan ancaman azab kubur, na’udzubillah…

Adapun ada yang dimaksud antara lain :

 

  1. Wajibnya membersihkan diri dari bekas kencing. Seharusnya kencing tersebut dibersihkan dari badan dengan maksimal, dari pakaian atau dari tempat shalat. Tidak boleh menganggap enteng urusan kebersihan bekas kencing ini. Karena anggapan tersebut bisa jadi sebab datangnya azab kubur. Jadi, apabila datang keinginan untuk kencing, maka carilah lokasi khusus atau tempat buang air kecil yang sudah disediakan yang akan menjaga diri kita dari cipratan air kencing.
  2.  

  3. Mengabaikan kebersihan diri sebelum, ketika atau sesudah kencing merupakan dosa besar. Hal ini pun berlaku untuk orang yang tidak menutupi diri saat buang hajat, melakukannya di sembarang tempat yang memungkinkan orang lain bisa melihatnya, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lainnya.
  4.  

  5. Dalil hadits di atas menerangkan tentang adanya azab kubur bagi orang yang tidak menjaga diri dari kencingnya. Aqidah ini pun dilandaskan pada dalil dari Al Qur’an, hadits dan ijma’ (berdasarkan kesepakatan ulama).

 

***

 

Inilah syari’at Islam yang penting untuk kita ketahui dan amalkan. Bagi Anda yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kesempatan untuk mengetahui hal ini, maka bersyukurlah karena bisa jadi Allah tengah mengharapkan kebaikan untuk diri kita, insyaa Allah. Dan agar kebaikan tersebut tidak berhenti sampai disini, raih pula kebaikan lainnya dengan menginformasikan hal ini kepada keluarga, sahabat, teman, serta orang-orang yang kebanyakan dari mereka tidak mengetahuinya.

Insyaa Allah dengan menyebarkan kebaikan berupa penjelasan di atas, kemudian menjadi sesuatu yang mereka amalkan, maka kita akan mendapatkan pahala serupa sebagaimana yang diamalkan. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya, hadits dari sahabat Uqbah bin ‘Amr bin Tsa’labah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

 

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya

(HR. Muslim no. 1893).

 

Semoga penjelasan ini bermanfaat, barokallahu fiikum…

 

 

 

 

 

(Penjelasan ini disusun berdasarkan faidah hadits yang disampaikan oleh Ustadz Hary Badar bin Marwan, pada kajian rutin kitab Taisyirul A’lam Syarah Umdatul Ahkam, senin 18 Maret 2019 di Mesjid Ash-Shiddiq)

 
 
 

Incoming search terms:

  • azab menyebarkan aib orang lain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: