3 Pembagian Tauhid Yang Harus Diketahui Umat Islam

Bismillahirrahmanirrahiim…

Jika berbicara tentang ilmu tauhid, maka ada sebuah kitab yang bisa dipelajari. Kitab tersebut berjudul “Al-Wajiba Al-Mutahattimatu Al-Ma’rifatu ‘ala Kulli Muslimin wal Muslimat” yang merupakan hasil karya Syaikh Abdullah bin Ibrahim Al-Qar’awi.

Dalam kitab ini dijelaskan tentang 3 pondasi pokok, yang dikenal dengan istilah “Al-Ushul Tsalatsah” yang wajib diketahui oleh kaum muslimin, yaitu :

  1. Pengenalan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala

  2. Pengenalan tentang Agama Islam berdasarkan dalil-dalil

  3. Pengenalan tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalaam

Itulah tiga ushul yang dibahas dalam kitab tersebut, yang setiap ushulnya disyarah dengan lebih jelas dan rinci dalam kitab ini.

Dan pada kesempatan ini kita akan membahas tentang poin yang pertama, yakni tentang pengenalan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala (ma’rifatullah). Diantaranya tentang pembagian tauhid yang wajib diketahui oleh seluruh umat Islam.

Tauhid yang berasal dari kata Wahhada – Yuwahhidu – Tauhidan yang artinya “menjadikan sesuatu hanya satu saja“. Makna ini akan sempurna dengan 2 hal, yaitu menafikan bahwa tidak ada selain yang satu ini, kemudian menetapkan hanya yang satu ini saja.

Dari pengertian secara bahasa tersebut, maka makna tauhid kepada Allah artinya mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala. Tauhid ini akan sempurna dengan menafikan bahwa tidak ada Rabb selain Allah, dan menetapkan bahwa hanya Allah saja Rabb kita, sebagaimana makna kalimat tauhid “laa ilaha illallah

Tauhid hanya akan bisa diamalkan apabila diketahui maknanya dengan benar, Sebab tidak sedikit diantara kita yang mengaku sudah bertauhid kepada Allah, akan tetapi masih menjadikan sesuatu yang lain selain Allah di hatinya dalam hal i’tiqod, yang menyebabkan tauhid menjadi rusak dan tidak sempurna.

Tauhid adalah dasar penting yang harus dipelajari oleh seluruh umat Islam. Dan sebagai pijakan awal, mari sama-sama belajar untuk mengenal tentang “PEMBAGIAN TAUHID“.

Berdasarkan pengkajian serta penelaahan para ulama terdahulu, tauhid terbagi menjadi 3 bagian, yaitu :

 

Tauhid Rububiyah

Yakni mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala di dalam penciptaan, dalam kepemilikan kerajaan, dan dalam pengaturan seluruh urusan.

Sejak zaman para nabi, manusia sudah mengamalkan Tauhid Rububiyah di dalam hati mereka. Bahkan kalangan kaum jahiliyyah dan musyrikin di Mekkah pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalaam pun sudah mengakui tauhid rububiyah ini! Sebagaimana yang Allah terangkan dalam firman-Nya :

 

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?”

(Az-Zukhruf 43:87)

 

Dalil ini menjadi keterangan bahwa sebenarnya kaum jahiliyyah dan kaum musyrikin di Mekkah yang menjadi target awal dakwah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alahi wassalaam sudah mengenal dan meyakini Allah sebagai pencipta mereka.

Bukti lain yang membuktikan bahwa mereka sudah mengakui tauhid rububiyah adalah pemberian nama ayah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalaam, yakni Abdullahhamba Alllah“. Pemberian nama Abdullah ini diberikan beberapa puluh tahun sebelum nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalaam dilahirkan ke dunia.

Lalu muncul pertanyaan! Jika kaum jahiliyyah dan musyrik Mekkah sudah mengakui tauhid rububiyyah, lalu apa sebenarnya yang didakwahkan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi Wassalaam?

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam memperjuangan dakwah Tauhid Uluhiyyah, yang memerintahkan mereka agar hanya mengesakan Allah dalam hal ibadah, serta tidak menyekutukannya.

 

Tauhid Uluhiyyah

Yakni mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala di dalam hal ibadah.

Dalam setiap peribadahan, baik yang sifatnya lahir maupun bathin, kita wajib mengamalkannya hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan bentuk ibadah yang sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

 

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”

(Al-Fatihah 1:5)

 

Bagian tauhid inilah yang terdapat banyak kesalahfahaman di kalangan umat Islam. Mereka mengaku bertauhid, akan tetapi melakukan ibadah untuk selain Allah, walaupun diniatkan sebagai perantara agar bisa semakin mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Kenyataan seperti inilah yang terjadi di kalangan kaum musyrikin, dimana mereka menyembah berhala dan patung patung dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, namun dengan cara yang sangat keliru. Hal ini Allah terangkan dalam Al-Qur’an :

 

أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلْخَالِصُ ۚ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلْفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِى مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى مَنْ هُوَ كَٰذِبٌ كَفَّارٌ

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (Az-Zumar 39:3)

 

Mereka berfikir bahwa thagut yang mereka sembah itu bisa lebih mendekatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Padahal justru merekalah manusia yang paling sesat! Inilah yang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam perjuangkan hingga mendapatkan banyak perlawanan dan ancaman, yakni mendakwahkan Tauhid Uluhiyyah.

 

Tauhid Asma wa Sifat

Yakni mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala dengan apa-apa yang Allah memilikinya dengan nama tersebut, dan dengan apa-apa yang Allah sifati dengan sifat tersebut, yang ditetapkan di dalam Al-Qur’an dan Hadits.

Dalam keterangan Al-Qur’an dan Hadits Allah sudah menerangkan tentang nama dan sifat-Nya, yang hal ini harus diyakini dan kita imani tanpa melakukan takhrif, ta’thil dan takyif.

Takhrif : yaitu memalingkan makna dari ayat atau hadits yang menyebutkan tentang nama dan sifat Allah dari makna zhahir kepada makna lain yang bathil. Sebagai contoh, sifat “istiwa” (bersemayam) ditakhrif dan dipalingkan menjadi kata “istaula” (menguasai).

Ta’thil : yaitu menolak serta mengingkari sebagian dari sifat-sifat yang sudah Allah tetapkan. Sebagaimana keterangan yang menyebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berada di atas ‘arsy, mereka ingkari dan menganggap bahwa Allah ada dimana mana.

Takyif : yaitu menggambarkan tentang hakikat wujud dari Allah. Ketika Allah menyebut kata “wajah“, banyak yang men-takyif dan menggambarkan tentang hakikatnya. Padahal yang mengetahui bagaimana wajah Allah, hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang mengetahuinya. Akan tetapi, “wajah” Allah tentu berbeda dengan wajah makhluk, karena sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

 

لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.”

(Asy-Syura 42:11)

 

***

Itulah pembagian tauhid yang harus menjadi pegangan umat Islam dalam mengamalkan tauhid yang murni sesuai dengan petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wassalaam.

Insyaa Allah pada kesempatan yang lain akan kita bahas lagi tentang tauhid untuk memperdalam keilmuan tentangnya, sehingga bisa mengamalkannya dengan benar agar bisa menjadi penyelamat kita di akhirat kelak. Sebagaimana keterangan dari dua hadits dibawah ini :

 

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ.

“Barangsiapa yang mati dan ia mengetahui bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah, maka ia masuk Surga.”

[HR. Muslim (no. 26) dari Shahabat ‘Utsman Radhiyallahu anhu]

 

مَنْ مَاتَ لاَيُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, ia masuk Surga.”

[HR. Muslim (no. 93) dari Shahabat Jabir Radhiyallahu anhu]

 

Akhir kata, semoga kita semua bisa menjadi muslim yang bertauhid secara murni sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya sehingga bisa bersama sama dikumpulkan dalam syurga dan keridhoan Allah subhanahu wa ta’ala.

Aamiin yaa robbal ‘alaamiin…

 

 

 

(Disampaikan oleh ustadz Abu Abdillah A. Suhandi pada kajian rutin hari senin ba’da maghrib tanggal 21 Agustus 2017 di Mesjid Ash-Shiddiq Kebon Gedang Bandung)

Incoming search terms:

  • 3 macam tauhid yang harus kita yakini
  • batalkah keislaman karya syaikh abdullah bin qarawi
  • contoh pertanyaan tentang materi dasar kajian ilmu tauhid tauhid rububiah uluhiyah asmawasifat
  • penjelasan tauhid rabbaniyah

2 thoughts on “3 Pembagian Tauhid Yang Harus Diketahui Umat Islam

    • July 4, 2018 at 1:39 am
      Permalink

      segala bentuk kesyirikan
      Semoga Kita selalu senantiasa mempelajari Tauhid Uluhiyaah, Tauhid Rububiyyah, dan Tauhid Asma wa Shifat dan bentuk kesyirikan.
      Pertanyaan yang bagus dan sangat penting, karena banyak dari umat ini yang terjerumus ke dalamnya.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: