4 Dosa Besar Yang Pelakunya Diancam Dengan Laknat Allah

Wahai kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, aku wasiatkan kepada diri sendiri dan umumnya kepada seluruh kaum muslimin untuk bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Bertaqwalah kepada Allah dan perbaikilah hati hati kalian! Dan rahasia-rahasia kalian! Niscaya kalian menjadi orang-orang yang berbahagia.

Wahai hamba Allah… Agama Islam adalah agama yang sempurna serta menyeluruh. Yang Allah subhanahu wa ta’ala meridhoinya untuk hamba-hamba-Nya, serta Dia pun menisbatkan agama Islam kepada diri-Nya, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

 

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلْإِسْلَٰم

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.. (Ali ‘Imran 3:19)

 

Maka dari itu, Islam adalah agama yang mencakup perkara-perkara, mencakup urusan-urusan kehidupan secara menyeluruh. Dan yang paling utama dan paling agung dari ajaran Islam, adalah mengesakan ibadah hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala saja atau TAUHID.

Dimana seorang hamba yang mengamalkan TAUHID sudah pasti tidak akan melakukan kesyirikan dalam beribadah kepada-Nya. Berdasarkan petunjuk dan sunnah nabi-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalaam.

Dan diantara peribadahan dan ketaatan yang Allah perintahkan, dengan hanya mengkhususkan peribadahan kepada Allah semata semata, adalah agar manusia mentekadkan dalam hatinya, bahwa :

 

قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

“Katakanlah : sesungguhnya sholatku, sesembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” (Al-An’am 6:162)

 

لَا شَرِيكَ لَهُۥ

“Tidak ada serikat bagi-Nya….” (Al-An’Am 6 : 163)

 

Ayat ini bermaksud perintah Allah subhanahu wa ta’ala yang disampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalaam untuk disampaikan kepada kita sebagai umatnya,

“Katakanlah wahai Muhammad, kepada seluruh kaum musyrikin, yang mereka beribadah kepada selain Allah, dan menyembelih untuk selain-Nya. Sesungguhnya sholatku, dan sesungguhnya penyembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, yakni perkara-perkara yang aku hidup di atasnya, dan perkara-perkara yang aku mati di atasnya, berupa iman dan amal sholeh, lillahi robbil ‘alaamiin, hanyalah untuk Rabb semesta alam. Yang murni mengharap wajah-Nya.

Laa syarikallah, tidak ada serikat baginya. Tidak ada sedikit pun dari hal itu, dan tidak ada pula pada macam-macam ibadah yang lainnya. Maka sholat adalah semulia-mulia ibadah badaniyah, dan penyembelihan adalah semulia-mulia ibadah maaliyah (ibadah harta). Maka barangsiapa yang sholat niatnya untuk selain Allah, maka sungguh dia telah berbuat SYIRIK. Dan barangsiapa yang menyembelih untuk selain Allah, maka sunggguh dia telah berbuat SYIRIK.”

Dan Allah subhanahu wa ta’ala, memerintahkan kepada hamba-Nya agar mereka bertaqarrub kepada-Nya dengan sesembelihan, sebagaimana memerintahkan kepada mereka untuk bertaqarrub kepada-Nya dengan sholat. Dan apabila mereka bertaqarrub kepada selain-Nya dengan sembelihan, maka sungguh mereka telah menjadikan bagi-Nya, serikat di dalam peribadahannya.

Dia meniatkan peribadahan yang dilakukan hanya untuk Allah, tetapi berserikat dalam peribadahan-peribadahan itu. Dan ayat ini menunjukkan bahwasanya ucapan hamba serta perbuatan yang dzohir (lahir) dan yang bathin, tidak boleh sedikitpun berpaling kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala. Barangsiapa yang memalingkan sesuatu daripada-Nya untuk selain Allah, maka sungguh dia telah berbuat SYIRIK. Dan Al-Qur’an seluruhnya menjelaskan tentang hal itu.

Dan sembelihan merupakan suatu ibadah diantara ibadah-ibadah yang paling mulia, dan seafdhol-afdhol dari bentuk taqarrub dengan harta. Maka memalingkan sesembelihan untuk selain Allah merupakan SYIRIK AKBAR, yang mengeluarkan seseorang itu dari agama. Sebagaimana orang yang menyembelih untuk kuburan, atau untuk pohon-pohon, atau untuk batu-batu, atau untuk raja-raja, atau untuk nabi, atau untuk jin, atau untuk penguasa, dan lain sebagainya.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

 

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ

Maka dirikanlah shalat karena Robb-Mu; dan berqurbanlah.” (Al-Kausar 108:2)

 

Syaikhul Islam telah berkata, Allah memerintahkan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalaam untuk menggabungkan dua ibadah ini, yaitu sholat dan berqurban, yang keduanya menunjukkan bentuk taqorrub (pendekatan) terhadap Allah, dan juga tawadhu, dan merasa butuh terhadap Allah, dan berbaik sangka, serta keyakinan yang kuat dan ketenangan hati untuk Allah.

Berbeda keadaannya dengan keadaan ahlu takabbur, dan orang orang yang menjauh, dan orang yang merasa tidak perlu dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka tidak berqurban karena takut fakir! Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala mengumpulkan diantara keduanya (sholat dan qurban) di dalam firman-Nya :

 

قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

“Katakanlah : sesungguhnya sholatku, sesembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” (Al-An’am 6:162)

 

An-Nusukh, dan sembelihan maksudnya adalah pengorbanan, yang mengharap wajah Allah, dan masuk kepadanya perkara-perkara yang ditetapkan syariatnya, yaitu 3 perkara :

  1. Al-Udhiyah (berqurban)
  2. Wal-Hadyu (menyembelih ketika haji)
  3. Wal-Aqiqoh (dan aqiqah)

Maka sholat merupakan perkara taqorrub kepada Allah yang paling mulia, dan perkara yang berkumpul pada seorang hamba ketika shalat, berupa sikap khusyu, menghinakan diri, dan menghadapkan diri, semuanya tidak akan berkumpul pada selain sholat. Sebagaimana yang dikenal oleh orang-orang yang mempunyai hati yang hidup.

Dan perkara-perkara yang berkumpul padanya ketika menyembelih apabila dikaitkan dengan keimanan dan keikhlasan dan keyakinan yang kuat dan berbaik sangka, itu merupakan perkara yang luar biasa.

Maka sesungguhnya apabila seseorang merelakan hartanya dengan niat untuk menjalankan syari’at Allah subhanahu wa ta’ala, disertai kesan yang mendalam di dalam jiwanya, disertai rasa cinta kepada-Nya, maka hal tersebut menjadikan ibadah Qurban sebagai ibadah maaliyah yang paling afdhol.

Akan tetapi barangsiapa yang memalingkan ibadah qurban kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala, maka dia telah berbuat SYIRIK.

Orang yang menyembelih binatang untuk selain Allah

Wahai kaum muslimin! Terdapat hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam, beliau bersabda :

“Allah melaknat orang yang menyembelih binatang untuk selain Allah.” (HR. Muslim).

Dan laknat itu artinya adalah pengusiran dan menjauhkan dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.

Adapun menyembelih binatang untuk selain Allah itu contohnya banyak sekali :

  • Orang yang menyembelih untuk kuburan nabi, wali, atau selainnya,
  • Orang yang berqurban untuk setan, atau jin,
  • Orang yang berqurban untuk meminta kesembuhan, sebagaimana terjadi dalam dunia perdukunan,
  • Atau orang yang menyembelih di jalan penguasa, sebagai bentuk pengagungan padanya,
  • Atau orang yang menyembelih untuk bintang-bintang dan semisalnya.
  • Atau orang yang menyembelih ketika menggali sumur, atau membangun rumah, untuk mendapatkan keridhoan jin, atau dalam rangka menjauhkan gangguannya dari penghuni rumah itu.

Sama saja, apakah keadaan yang disembelih itu berupa binatang atau yang lainnya, maka seluruhnya termasuk dari SYIRIK AKBAR. Yang menjadikan daging sesembelihan tersebut haram dimakan, kuahnya pun haram untuk diminum, kulitnya pun haram untuk dimanfaatkan, serta segala cara untuk memanfaatkan binatang sesembelihan tersebut adalah diharamkan.

 

Orang yang melaknat kedua orang tua

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam berkata di dalam terusan hadits :

Allah melaknat anak yang melaknat kedua orang tuanya. (HR. Muslim 1978).

Allah subhanahu wa ta’ala memposisikan hak kepada orang tua setelah hak-Nya subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia :

 

وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa…” (An-Nisa’ 4:36)

 

Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengkhususkan jenis perbuatan baik kepada keduanya, supaya manusia bisa melakukan perintah berbakti untuk orang tua ini secara menyeluruh, mulai dari berbagai perbuatan baik, berupa penghormatan dan menyambung silaturahmi, mendo’akan dan selainnya.

dapun Dan melaknat kedua orang tua termasuk dari dosa-dosa besar. Dan itu bisa terjadi dengan melaknat secara langsung, yaitu melaknat kepada kedua orang tua, melontarkan laknat kepada kedua orang tua, atau dengan melakukan perbuatan yang menyebabkan laknat, seperti seseorang melaknat ayah atau ibu orang lain. Itu termasuk dari dosa-dosa besar juga, sebagaimana dalam hadits nabi shallallahu ‘alaihi wassalam :

Diantara dosa besar adalah seorang laki-laki mencela kedua orang tuanya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, ‘Apakah (mungkin) seorang laki-laki mencela orang tuanya? ‘ Beliau menjawab: “Ya. Dia mencela bapak seseorang lalu orang tersebut (membalas) mencela bapaknya, lalu dia mencela ibunya, lalu orang tersebut (membalas) mencela ibunya.” Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Muhammad bin al-Mutsanna serta Ibnu Basysyar semuanya dari Muhammad bin Ja’far dari Syu’bah. (dalam riwayat lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hatim telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Sufyan keduanya dari Sa’ad bin Ibrahim dengan sanad ini seperti hadits tersebut.”[HR. Muslim]

 

  1. Orang yang melindungi penjahat

Kemudian nabi shallallahu alaihi wassalam bersabda :

…Allah melaknat orang yang melindungi muhdits (orang yang jahat)…” (HR. Muslim 1978).

Islam datang membawa keadilan diantara manusia dan membela yang di dzolimi, dan mengambil hak dari orang yang dzolim. Maka barangsiapa yang melindungi orang jahat yang berhak mendapatkan hukuman, atau menghalangi ditimpakan hukuman atasnya, seperti pembunuh atau pencuri, maka dia diancam dengan laknat Allah, karena hal itu termasuk dari menyebarkan kedzaliman di masyarakat.

Ibnul Qayyim berkata, dosa besar ini berbeda tingkatannya, sesuai dengan tingkatan kejahatan dalam dirinya. Maka ketika kejahatan di dalam dirinya lebih besar, maka dosanya pun lebih besar lagi.

 

  1. Orang yang merubah patok/batas tanah

…Allah melaknat orang yang sengaja mengubah patok batas tanah.” (HR. Muslim 1978)

Ini adalah bentuk perhatian dalam Islam untuk menjadikan masyarakat menjadi damai, saling berkasih sayang dan tidak ada perselisihan. Maka barangsiapa mengubah tanda batas tanah antara dia dengan tetangganya, dengan memajukannya atau memundurkannya, supaya dia bisa mencuri dari tanah tersebut, maka sungguh dia telah mendzoliminya dan menjerumuskan manusia di dalam permusuhan dan perselisihan, sehingga terjadilah konflik dan permusuhan diantara kaum muslimin.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mengancam orang yang melakukan hal itu dengan laknat. Sebagaimana sabda nabi shallallahu ‘alaihi wassalam yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim :

مَنْ ظَلَمَ مِنَ اْلأَرْضِ شَيْئًا طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِيْنَ.

Barangsiapa mengambil sedikit tanah dengan cara yang zhalim, maka (Allah) akan mengalungkan kepadanya dari tujuh lapis bumi.” Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (V/103, no. 2452), Shahiih Muslim (III/ 1230, no. 1610)

Dan sebagaimana juga Islam mendorong untuk saling tolong-menolong dan memberi petunjuk supaya tidak tersesat, kemudian tidak membinasakan diri sendiri. Maka barangsiapa yang mengganti tanda/rambu-rambu yang diletakkan di jalan-jalan, maka ia akan diancam dengan laknat juga.

***

Demikianlah ini adalah 4 dosa besar yang pelakunya diancam dengan laknat Allah subhanahu wa ta’ala. Maka berqurban kepada selain Allah adalah syirik Akbar, melaknat kepada kedua orang tua, melindungi penjahat, dan merubah patok tanah, termasuk dari kemaksiatan yang mengurangi ketauhidan seseorang. Maka wajib bagi seorang muslim untuk menjauhkan dirinya dan orang lain dari perkara yang membuat murka Allah dan laknat-Nya.

Dan diharamkan juga kepada hamba-hamba Allah melaknat pelaku-pelaku kemaksiatan, kecuali dengan bentuk lafadz yang umum. Maka janganlah mengatakan kepada pencuri, semoga Allah melaknatmu, tetapi dikatakan sebagaimana hadits yang dikatakan oleh muttafaq alaih.

Semoga kita semua bisa terhindar dari keempat dosa besar tersebut, kemudian didekatkan dengan syurga serta dijauhkan dari neraka. Aamiin ya robbal’alaamiin.

Sebagai penutup, ada hadits yang disabdakan oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalaam :

الْجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ

Surga itu lebih dekat kepada salah seorang kalian daripada tali sandalnya, dan neraka juga demikian.” (HR. al-Bukhari)

Barokallahu fiikum

 

 

 

 

(Disampaikan oleh Ustadz Hary Badar bin Marwan, S.Pd.I pada khutbah Iedul Adha 10 Dzulhijjah 1438 H)

Incoming search terms:

  • laknat
  • dosa yang pelakunya di laknat di akhirat adalah
  • dosa yang paling di laknat oleh allah
  • dosa yang dilaknat rasulullah
  • dosa yang dilaknat allah
  • dilaknatlah kamu dalam bahasa arab
  • bangsa yang akan di laknat allah dan tak diampuni dosanya menurut alquran
  • apa itu laknat allah
  • 4 dosa besar menurut hadist rasul
  • yang taat vs yang di laknat

2 thoughts on “4 Dosa Besar Yang Pelakunya Diancam Dengan Laknat Allah

  • April 6, 2018 at 10:43 am
    Permalink

    informasi yg sangat penting.tp bagaimana dg orang yg sudah bertaubat dg sbenar2.a?

    Reply
    • April 8, 2018 at 10:53 pm
      Permalink

      Apabila dosanya berhubungan dengan sesama makhluk (misalnya memindahkan patok tanah atau mengambil harta orang lain dengan cara yang bathil), maka orang yang bertaubat harus memberikan hak saudaranya.

      Jika dosanya berupa maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka taubat yang tulus dan sebenar-benarnya taubat akan menghapuskan seluruh dosa-dosanya… Insyaa Allahu Ta’ala…

      Hal ini dikuatkan pula pada ayat dalam Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,

      قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

      “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53).

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: