Amal Apapun Tidak Akan Diterima Kecuali Dengan Dua Syarat

Ketahuilah wahai saudaraku muslim-semoga Allah memberikanku dan engkau hidayah untuk berpegang teguh kepada Alquran dan sunnah-bahwasanya Allah tidak akan menerima amalan apapun dari siapapun kecuali dengan dua syarat yang mendasar. Keduanya akan dijelaskan pada berikut:

Yang Pertama: hendaknya amalan tersebut dilakukan ikhlas untuk Allah dan tidaklah pelakunya mencari dengan amalannya tersebut kecuali wajah Allah. Allah Taala berfirman:

۝أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلْخَالِصُ‎ إِنَّآ أَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ فَٱعْبُدِ ٱللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ ٱلدِّينَ

[1][2]

“Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (AlQur’an) kepadamu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik).” (Azzumar:3-2).

Allah Taala juga berfirman:

قُلْ إِنِّىٓ أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ ٱللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ ٱلدِّينَ

[3]

“Katakanlah, “Sungguhnya aku diperintahkan agar menyembah Allah dengan penuh ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” (Azzumar:11.)

Allah Taala juga berfirman:

قُلِ ٱللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَّهُۥ دِينِى

[4]

Katakanlah, “Hanya Allah yang aku sembah dengan penuh keikhlasan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.” (Azzumar: 14).

Dan ini adalah makna dari laa ilaha illallah.

Yang Kedua: hendaknya amalan tersebut sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَ ثَ فِي أَمْرِ نِاهَذَامَالَيْسَ مِنْهُ فَهُوَرَدٌّ

“Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian darinya, maka dia tertolak.” (HR Bukhari dan Muslim).

Di dalam riwayat Muslim, Disebutkan bahwa beliau bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاًلَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُ نَافَهُوَرَدٌّ

“Siapa yang melakukan amalan yang tidak ada contohnya dari kami, maka dia tertolak.”

Ini adalah makna dari asyhadu anna Muhammad Rasulullah.

Agama Islam Dibangun di Atas Dua Landasan Pokok

Ketahuilah saudaraku Muslim-semoga Allah memberikan aku dan engkau taufik atas apa yang dicintai-Nya dan diridai-Nya-bahwasanya agama islam dibangun di atas dua landasan pokok. Keduanya akan dijelaskan sebagai berikut:

Yang pertama: kita tidaklah menyembah kecuali kepada Allah yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya.
Allah Taala berfirman:

قُلْ يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِۦ شَيْـًٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
“katakanlah (Muhammad),”Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (Pegangan yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka),”Saksikanlah, bahwa kami orang Muslim.” (Ali Imran:64).
Allah Taala juga berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ

[6]

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan Menyembah selain Dia.” (Alisra:23).
Ini adalah makna asyhadu alla ilaha illallah.

 

Yang kedua: kita tidaklah menyembah-Nya kecuali dengan apa yang telah disyariatkannya di dalam kitab-Nya atau di dalam sunnah Nabi-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita tidak menyembah-Nya dengan sesuatu yang dibuat-buat sendiri atau dengan mengikuti hawa nafsu. Allah Taala berfirman:

 

ٱتَّبِعُوا۟ مَآ أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti selain Dia sebagai pemimpin. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.”(Ala’raf:3).
Allah Taala juga berfirman:

 

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ
[8]
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya.” (Alhasyr:7).
Ini adalah makna asyhadu anna Muhammad Rasulullah.

 

Disalin dari :

Muhammad bin Abdil Wahab bin Ali Alwashobi Alabdali. 2019. Alqoulul Mufid Fi Adilatit Tauhid. Yogyakarta. Indonesia Bertauhid.

[1] https://tafsirweb.com/8664-quran-surat-az-zumar-ayat-2.html

[2] https://tafsirweb.com/8665-quran-surat-az-zumar-ayat-3.html

[3] https://tafsirweb.com/8673-quran-surat-az-zumar-ayat-11.html

[4] https://tafsirweb.com/8676-quran-surat-az-zumar-ayat-14.html

[5] https://tafsirweb.com/1196-quran-surat-ali-imran-ayat-64.html

[6] https://tafsirweb.com/4627-quran-surat-al-isra-ayat-23.html

[7] https://tafsirweb.com/2457-quran-surat-al-araf-ayat-3.html

[8] https://tafsirweb.com/10805-quran-surat-al-hasyr-ayat-7.html

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *