Aneka Perbuatan Bid’ah di Bulan Muharram Bagian Kedua

Alhamdulillah saat ini kita masih diberikan kesempatan untuk melanjutkan pembahasan tentang aneka perbuatan bid’ah di bulan Muharram bagian kedua. Setelah sebelumnya kita membahas tentang 5 perbuatan bid’ah di bulan Muharram dalam ARTIKEL INI, maka kali ini akan dibahas tentang 6 point yang merupakan berbagai perbuatan bid’ah di bulan Muharram yang sebaiknya kita ketahui.

Semoga dengan mengetahui berbagai perbuatan bid’ah di bulan Muharram tersebut, kita bisa menjadi umat Islam yang menghidupkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, serta memberikan tambahan wawasan kepada umat Islam pada umumnya tentang bagaimana cara yang tepat dalam memanfaatkan datangnya bulan Muharram untuk mengejar keridhoan Allah subhanahu wa ta’ala.

Perbuatan Bid’ah di Bulan Muharram Bagian Pertama

Sebelum melanjutkan, berikut kami ulas lagi tentang perbuatan bid’ah di bulan Muharram bagian pertama secara singkat, yaitu :

1. Meyakini bulan Muharram sebagai bulan kesialan
2. Mengamalkan do’a awal dan akhir tahun
3. Melakukan peringatan dan perayaan tahun baru Hijriyyah
4. Melakukan puasa awal dan akhir tahun
5. Menghidupkan malam pertama di bulan Muharram

Penjelasan lebih lanjut tentang semua point di atas bisa antum baca ARTIKEL INI.

 

Perbuatan Bid’ah di Bulan Muharram Bagian Kedua

Lalu, apa sajakah hal yang merupakan bagian dari perbuatan bid’ah di bulan Muharram? Berikut penjelasan lebih lanjutnya :
 

  • Menghidupkan malam ‘Asyura

Perbuatan Bid’ah bulan Muharram yang dilakukan kebanyakan masyarakat Indonesia sangat terlihat pada malam ‘Asyura. [Iqthido as-Sirath al-Mustaqim 2/129-134, Majmu’ Fatawa 25/307-314 keduanya oleh Ibnu Taimiyyah, al-Ibda’ Fi Madhoril Ibtida’ Ali Mahfuzh hal.56, 269, as-Sunan wal Mubtada’at hal.154-158, 191.]

Dimana masjid mendadak penuh oleh orang yang sengaja menghidupkan malam tersebut dengan mengamalkan do’a, dzikir, dan shalat khusus yang tidak ada landasan dalilnya sama sekali. Atau bahkan ada juga yang menghidupkan malam tersebut dengan sekedar berkumpul dan berbincang-bincang.

Sebagaimana perkataan dari Syaikh Bakr Abu Zaid, “Menghidupkan malam hari ‘Asyura dengan berbagai do’a, dzikir, dan ibadah khusus di malam tersebut, termasuk bentuk perbuatan bid’ah. Mengkhususkan membaca do’a hari ‘Asyura, yang konon menurut kabar berita bahwa barangsiapa yang membaca do’a ini, maka tidak akan menemui kematian pada tahun tersebut. Atau juga membacakan surat dari Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat penyebutan nama Musa ketika shalat shubuh di hari ‘Asyura. [Bida’ Al-Qurra, Bakr Abu Zaid, hal. 9]

Semua perbuatan tersebut merupakan perkara yang tidak ada ketentuannya, baik dari Allah subhanahu wa ta’ala maupun rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalaam. [Tashihud Du’a, hal. 109]

 

  • Shalat ‘Asyura

Merujuk pada sebuah hadits tentang shalat ‘Asyura, sebagian kaum muslimin di Indonesia melakukan shalat ‘Asyura, yang dikerjakan dengan ketentuan sebagai berikut :

  1. Dikerjakan diantara waktu Dhuhur dan Ashar
  2. Dikerjakan sebanyak 4 rakaat
  3. Di setiap rakaat membaca Al-Fatihah 1x, kemudian Al-Ikhlas 10x, Al-Falaq dan An-Naas masing-masing 5x,
  4. Kemudian di akhir shalat setelah salam, membaca Istighfar sebanyak 70x

Namun ketahuilah wahai saudaraku seiman, hadits yang menerangkan tentang shalat ‘Asyura ini tidak bisa dijadikan dalil, karena statusnya PALSU.

Sebagaimana perkataan Asy-Syauqairi, bahwa “hadits tentang shalat ‘Asyura merupakan hadits maudhu (palsu). Karena para perawinya Majhul, seperti yang tertulis dalam kitab Al-Aala’i al-Mashnu’ah karya As-Suyuti. Hadits ini tidak boleh diriwayatkan, dan apalagi sampai mengamalkannya. [As-Sunan wa Mubtada’at, hal. 154]

 

  • Do’a Hari ‘Asyura

Perbuatan bid’ah di bulan Muharram selanjutnya adalah mengkhususkan do’a ‘Asyura. Hal ini karena mereka merujuk pada dalil yang menyebutkan, “Barangsiapa yang mengucapkan ‘Hasbiyallah wa Ni’mal Wakil an-Nashir’ sebanyak 70x di hari ‘Asyura, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menjaganya dari kejelekan di hari tersebut.”

Keterangan tersebut tidak ada dasarnya, baik dari nabi Shallallau ‘alaihi wassalaam, dari para sahabat, dari para tabi’in, dan tidak disebutkan juga dalam hadits yang lemah apalagi yang shahih. Do’a tersebut sebenarnya berasal dari sebagian golongan manusia. Dan diantara golongan syaikh sufi ada yang berlebihan dalam hal ini, dimana mereka mengatakan bahwa barangsiapa yang membacakan do’a ini di hari ‘Asyura, maka orang tersebut tidak akan menemui kematian pada tahun tersebut. [Du’a Khotmil Qur’an, Ahmad Muhammad al-Barrok, buku ini sarat dengan khurafat dan kedustaan!!. (Bida’ wa Akhtho hal.230).]

Persangkaan tersebut sangat bathil dan mungkar, dan secara nyata bertentangan dengan dalil al-Qur’an dalam surat Nuh ayat 4 :

إِنَّ أَجَلَ ٱللَّهِ إِذَا جَآءَ لَا يُؤَخَّرُ ۖ لَوْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui”. (Nuh 71:4)

 

  • Peringatan hari suka cita

Perbuatan bid’ah di bulan Muharram selanjutnya adalah dengan menjadikan perayaan khusus di awal bulan Muharram dan menjadikannya sebagai hari suka cita dengan menampakkan berbagai hal yang menggembirakan, seperti makanan yang dihidangkan secara berlebihan dan tidak biasa, menggunakan pakaian baru dan bagus, dan lain sebagainya.

Pertimbangan diadakannya acara khusus tersebut awalnya dimaksudkan untuk mengganti dan menyaingi hari kesedihan akan peristiwa terbunuhnya Husein sebagaimana yang dilakukan kaum Syi’ah. Akan tetapi, menyaingi sebuah kebid’ahan dengan kebid’ahan yang baru bukanlah hal yang diperbolehkan. Terlebih tidak didapatkan satu dalil pun yang menganjurkan kita melakukan perayaan dan acara ini.

 

  • Ritual adat yang mengandung kesyirikan

Di berbagai penjuru Indonesia, ada ritual adat yang muncul di masyarakat. Dimana berbagai perbuatan bid’ah di bulan Muharram tersebut sangat sarat dengan unsur kesyirikan yang bisa menjerumuskan orang yang mengamalkannya kepada i’tiqad yang sangat dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala, yakni KEMUSYRIKAN.

Ritual ada yang dimaksud seperti mencuci benda keramat, mengharapkan berkah dari benda yang dianggap keramat dan sakti tersebut, memberikan pengorbanan hewan khusus kepada selain Allah, dan yang paling tidak masuk akal, adalah dengan menjadikan kotoran sapi sebagai alat untuk mencari berkah.

Semua ritual adat tersebut merupakan perbuatan bid’ah di bulan Muharram yang sebaiknya kita jauhi.

 

***

 

Alhamdulillah, pembahasan tentang perbuatan bid’ah di bulan Muharram sudah tersampaikan semuanya. Kiranya kita semua memohon perlindungan dan hidayah Allah subhanahu wa ta’ala agar bisa mengetahui mana yang termasuk ajaran Islam sehingga kita bisa mengamalkannya untuk kembali menghidupkan syari’at Islam dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalaam.

Dan kita pun senantiasa berdo’a agar semakin difahamkan tentang agama Islam, agar bisa mengetahui mana perkara baru yang sama sekali tidak disyari’atkan oleh agama agar bisa dihindari dan dijauhi. Sehingga setiap waktu, tenaga, pengorbanan yang dilakukan dalam rangkan menjalankan amal ibadah yang dilakukan, bisa sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya.

Aamiin yaa robbal ‘alaamiin.

Barokallahu fiikum…

 

 

 

 

Sumber : Buku “Ensiklopedi Amalan Sunnah di Bulan Hijriyyah”, yang ditulis oleh Abu ‘Ubaidah Yusuf as-Sidawi & Abu ‘Abdillah Syahrul Fatwa (dengan beberapa tambahan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: