Aneka Perbuatan Bid’ah di Bulan Muharram Bagian Pertama

Apakah ada perbuatan bid’ah di bulan Muharram? Jawabannya “BANYAK”, dan hampir semuanya menjadi sebuah ritual yang dianggap termasuk ke dalam syari’at Islam!

Apa sajakah perbuatan bid’ah di bulan Muharram yang dimaksud? Semua akan coba kami jelaskan dalam artikel ini. Akan tetapi, karena pembahasannya cukup panjang, maka kami membagi pembahasan ini menjadi 2 bagian..

Silahkan disimak dan dipelajari secara cermat, agar sebagai umat Islam, kita bisa membedakan antara Bid’ah dan Sunnah.

 

Penyebab Munculnya Bid’ah di Masyarakat

Kepercayaan terhadap ajaran nenek moyang, ke-simpangsiuran informasi, sifat taklid masyarakat tanpa mencari tahu tentang kebenaran yang sejati, kurangnya keinginan untuk mencari ilmu syar’i, dan terlalu mengedepankan logika, perasaan dan hawa nafsu dalam menjalankan kehidupan, menjadi penyebab munculnya berbagai bid’ah di masyarakat yang sudah dianggap sebagai bagian dari syari’at Islam.

Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

 

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ ٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّٰلِمِينَ

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Qasas 28:50)

 

Bid’ah Bulan Muharram Yang Dilakukan Masyarakat Indonesia

Tidak menutup kemungkinan bahwa di belahan dunia lain terdapat berbagai perbuatan bid’ah di bulan Muharram yang diamalkan oleh masyarakatnya. Akan tetapi, pembahasan kali ini akan dipersempit kepada kebiasaan dan amalan bid’ah yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia di bulan Muharram.

  • Meyakini bulan Muharram sebagai bulan kesialan

Hal ini merupakan keyakinan bathil yang harus ditepis oleh setiap muslimin. Sebab dalam islam, kesialan tidak dihubungkan dengan bulan tertentu, kejadian tertentu, tanggal tertentu, dan hal lainnya. Segala hal yang terjadi berdasarkan kehendak Allah subhanahu wa ta’ala atas takdir yang telah ditetapkan.

Jika ada manusia yang menganggap suatu kejadian sebagai sebuah kesialan, maka bisa jadi itu merupakan teguran atas dosa dan maksiat yang pernah kita lakukan, dan bisa juga merupakan cobaan untuk menguji keimanan seseorang atau meningkatkan derajatnya.

 

  • Mengamalkan do’a akhir dan awal tahun

Dalam kitab Tash-hid ad-Duu’a halaman 107, Syaikh Bakr bin ‘Abdillah Abu Zaid mengemukakan bahwa masyarakat zaman sekarang banyak membuat perkara bid’ah dalam bentuk dzikir, do’a, puasa di awal tahun, saling bertukar ucapan selamat, kegiatan menghidupkan malam di hari pertama bulan Muharram dengan dzikir, do’a dan sholat, serta mengamalkan puasa di awal tahun, adalah berbagai amalan dan ritual yang tidak memiliki dalil sama sekali.

Akan tetapi, masyarakat mengamalkan itu semua dan menganggap bahwa semua amalan tersebut termasuk ke dalam syari’at yang memberikan nilai ibadah serta pahala pada pelakunya. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dengan tegas mengatakan :

 

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

 

  • Memperingati Tahun Baru Hijriyyah

Berdasarkan keterangan hadits, umat Islam hanya memiliki 2 hari raya, yakni : Iedul Fitri dan Iedul Adha.

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,

 

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ  وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

 

Tapi kebanyakan masyarakat di Indonesia menambah hari raya umat Islam dengan menjadikan berbagai perayaan dan acara khusus untuk merayakan datangnya tahun baru Islam.

Perayaan bid’ah yang dilakukan setiap tahun baru hijriyyah ini selain tidak disyari’atkan, juga dikhawatirkan masuk pada “Tasyabbuh” atau menyerupai/mengikuti gaya orang kafir yang senantiasa melakukan perayaan ketika datangnya tahun baru Masehi.

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalaam telah memperingatkan melalui sebuah hadits dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269)

 

  • Melakukan Puasa Awal Tahun

Baik puasa awal tahun maupun puasa akhir tahun hijriyyah, merupakan sebuah bid’ah yang munkar, karena amalan ini secara nyata dibuat-buat tanpa berlandas kepada dalil yang kuat.

Adapun yang menjadi alasan kenapa banyak orang yang mengamalkan puasa di awal dan akhir tahun hijriyyah, karena mereka menggunakan dalil :

 

مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ, وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ, فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ بِصَوْمٍ وَافْتَتَحَ السَّنَةَ الْمُسْتَقْبَلَةَ بِصَوْمٍ, جَعَلَ اللهُ لَهُ كَفَّارَةً خَمْسِيْنَ سَنَةً

Barangsiapa yang puasa pada akhir hari Dzulhijjah dan puasa awal tahun pada bulan Muharram, maka dia telah menutup akhir tahun dengan puasa dan membuka awal tahunnya dengan puasa. Semoga Allah manghapuskan dosanya selama lima puluh tahun!!”.

 

Penting untuk diketahui, bahwa hadits di atas termasuk kategori hadits “ma’udhu” atau “palsu” yang tidak bisa dijadikan rujukan sama sekali berdasarkan pertimbangan para ahli hadits.

[al-A’lai al-Mashnu’ah, as-Suyuti 2/108, Tanziihus Syari’ah, Ibnu Arroq 2/148, al-Fawaid al-Majmu’ah, as-Syaukani no.280. Kritik Hadits-Hadits Dho’if Populer, Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi hal.114]

 

  • Menghidupkan malam pertama di bulan Muharram

Syaikh Abu Syamah rahimahullahu menuturkan, “bahwa tidak ada sedikitpun keutamaan di malam pertama bulan Muharram. Sudah banyak atsar-atsar yang kuteliti, baik yang lemah terlebih yang shahih tentang masalah ini. Dan bahkan di dalam hadits yang palsu pun, tidak ada satu pun keterangan yang menyebutkan tentang keutamaannya. Aku khawatir dan berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala bahwa perkara ini muncul hanya dari seorang pendusta yang mereka-reka hadits.” [al-Ba’its Ala Inkaril Bida’ wal Hawadits hal.239]

 

***

 

Alhamdulillah, itulah aneka perbuatan bid’ah di bulan Muharram yang bisa kami bagikan dalam kesempatan kali ini. Insyaa Allah, perbuatan bid’ah di bulan Muharram lainnya akan dibahas dalam artikel selanjutnya.

Mohon do’a dan dukungannya, agar upaya dakwah untuk mengembalikan umat Islam pada syari’at yang murni ini senantiasa berada dalam lindungan, bimbingan, serta pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala…

Dan semoga dakwah sunnah ini bisa kembali menghidupkan Sunnah dan mematikan Bid’ah. Aamiin yaa robbal ‘alaamiin….

 

 

Sumber : Buku “Ensiklopedi Amalan Sunnah di Bulan Hijriyyah”, yang ditulis oleh Abu ‘Ubaidah Yusuf as-Sidawi & Abu ‘Abdillah Syahrul Fatwa (dengan beberapa tambahan)

Incoming search terms:

  • kata motivasi bulan muharram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: