Apakah yang dimaksud dengan memurnikan tauhid

Apakah yang Dimaksud dengan Memurnikan Tauhid?

Apakah yang Dimaksud dengan Memurnikan Tauhid?

Apakah yang dimaksud dengan memurnikan tauhid? Adalah yang memenuhi tiga syarat sebagaimana yang akan dijelaskan dalam artikel berikut ini…

Bismillah…

Yang dimaksud dengan memurnikan atau men-tahqiq tauhid adalah membersihkan tauhid dari noda-noda syirik, bid’ah, maksiat dan segala macam bentuknya, baik yang besar maupun yang kecil, baik yang banyak maupun yang sedikit. Hal ini merupakan konsekuensi dari syahadat “laa ilaaha illallah” dan syahadat “muhammad rasulullah”. Ini adalah tingkatan minimal bagi seseorang untuk mendapatkan predikat tauhid yang bersih.

Dari tingkatan minimal yang dijelaskan di atas, masih ada lagi tingkatan lain yang lebih utama dan lebih tinggi. Pada tingkatan memurnikan tauhid yang paling tinggi, selain harus memenuri syarat yang ada pada tingkatan pertama, maka dia juga meninggalkan sesuatu yang pada asalnya hal tersebut sesungguhnya bukan termasuk dosa. Hal tersebut sengaja ditinggalkan karena khawatir dan takut bahwa hal tersebut akan menghalangi dirinya dari mendapatkan kenikmatan yang sempurna di akhirat kelak.

Ada tiga syarat yang harus dipenuhi agar seseorang memurnikan tauhidnya, yakni :

 

#1 : Memiliki ilmu yang sempurna

Seseorang tidak akan mungkin dapat membersihkan sesuatu tanpa mengetahui dan memahami hal tersebut terlebih dahulu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (QS. Muhammad : 19)

 

#2 : Meyakini kebenaran tauhid yang telah diilmuinya

Tanpa adanya keyakinan terhadap kebenaran ilmu yang telah dipelajari dan diketahui, maka yang timbul adlah kesombongan. Barangsiapa yang sombong, maka akan sangat sulit sekali baginya untuk dapat membersihkan dan memurnikan tauhid dalam dirinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang keadaan orang-orang kafir yang tidak meyakini akan keesaan Allah sebagai satu-satunya yang berhak disembah, padahal mereka sangat faham akan makna dari “laa ilaaha illallah”.

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shad : 5)

 

#3 : Mengamalkan ajaran tauhid dengan penuh ketundukan

Apabila seseorang telah mengetahui ilmunya, kemudian meyakini akan kebenaran tauhid, namun tidak mau tunduk dan mengamalkan konsekuensi atas tauhid tersebut, maka sesungguhnya tauhid yang dimilikinya belum murni dan belum bersih.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّهُمْ كَانُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri,”

وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?”

(QS. Ash-Shaffat : 35 – 36)

 

 

 

“Disarikan dari kitab Mutiara Faidah Kitab Tauhid – Belajar Tauhid secara Sistematis & Mudah yang ditulis oleh Ustadz Abu Isa Abdullah bin Salam hafizhahullahu ta’ala.”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *