Bolehkah Isbal Tanpa Bermaksud Sombong?

Bolehkah isbal tanpa bermaksud sombong? – Mungkin sebagian besar dari ikhwan masih mempertanyakan tentang hal ini, bahkan tidak sedikit ikhwan yang masih memilih untuk menjulurkan pakaian dibawah mata kaki (ISBAL) karena mendengar argumen kurang tepat yang beredar di masyarakat, seperti :

 

“Gapapa isbal juga, toh yang di tempatkan di neraka cuman kainnya aja…”

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalaam melarang isbal karena zaman dulu karena banyak para raja dan pembesar yang menjulurkan pakaian sebagai perwujudan kebesarannya. Jadi kita mah gapapa isbal juga asal gak sombong…”

“Liat tuh orang arab, banyak juga yang isbal…”

 

Semua argumen diatas kurang tepat, bahkan bisa dikatakan salah! Karena di zaman sahabat, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan atau melarang sesuatu, mereka tidak berani mengutarakan argumen atau bertanya lebih lanjut kenapa harus begini dan kenapa harus begitu. Mereka para sahabat radhiyallahu ‘anhu ketika mendengar sabda rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalaam, langsung sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami taati).

 

Dalil Tentang Larangan Isbal

Sebelum menjawab pertanyaan diatas, alangkah lebih baik apabila kita uraikan dulu beberapa dalil tentang larangan isbal dari sumber yang shahih.

***

Diriwayatkan dari Abu Dzar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Ada tiga orang yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat nanti, tidak dipandang, dan tidak disucikan serta bagi mereka siksaan yang pedih.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam menyebut tiga kali perkataan ini. Lalu Abu Dzar berkata,

خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ

Mereka sangat celaka dan merugi. Siapa mereka, Ya Rasulullah?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam menjawab,

الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ

Mereka adalah orang yang isbal, orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR. Muslim no. 306).

Orang yang isbal (musbil) adalah orang yang menjulurkan pakaian atau celananya di bawah mata kaki.

***

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ

“Allah tidak akan melihat kepada orang yang menyeret pakaianya dalam keadaan sombong.” (HR. Muslim no. 5574).

***

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الَّذِى يَجُرُّ ثِيَابَهُ مِنَ الْخُيَلاَءِ لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Sesungguhnya orang yang menyeret pakaiannya dengan sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 5576)

 

Bolehkah Isbal Tanpa Bermaksud Sombong?

Jika merujuk dalil diatas, bisa dilihat bahwa ada kalimat “Sesungguhnya orang yang menyeret pakaiannya dengan sombong”. Kalimat inilah yang menjadi pembenaran masyarakat umum untuk tetap ber-isbal karena merasa tidak ada sedikitpun maksud sombong ketika melakukannya.

Akan tetapi, kita pun tidak boleh mengabaikan dalil lain tentang larangan isbal ini, seperti :

***

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu secara marfu :

Setiap sesuatu yang melewati mata kaki dari pakaian (tempatnya adalah) di Neraka.” (Lihat Shahiihul Jaami’ no. 4532)

***

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassalaam, beliau bersabda :

Apa yang turun melewati mata kaki dari pakaian maka (tempatnya) di Neraka” (Hadits ini ditakhri oleh Al-Bukhari)

***

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalaam bersabda :

Apa saja yang di balik (di bawah) mata kaki maka (tempatnya) di Neraka”. (Lihat Shahihul Jaami’ no. 5618)

***

Hadits-hadits diatas tidak mengatakan kata “sombong”, yang secara tidak langsung menjadi dalil yang menjelaskan bahwa isbal (menjulurkan pakaian di bawah mata kaki) diancam dengan neraka.

Dalil tersebut pun memberikan kesimpulan, bahwa isbal walau tanpa bermaksud sombong tetap dilarang. Yang berpotensi menjerumuskan pelakunya (musbil) pada ancaman Allah subhanahu wa ta’ala, berupa Neraka.

Inilah kenyataan yang harus kita terima apabila ingin dianggap sebagai ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalaam, yakni dengan menerima dan mengamalkan sunnah Beliau. Ketika datang keterangan yang sudah jelas sumber dan kebenarannya, maka kita wajib tunduk dan patuh untuk mengamalkannya, sekalipun itu terasa berat.

 

Apakah Kita Yakin Tidak Sombong Ketika Isbal?

Saat datang sebuah keterangan, baik berupa perintah maupun larangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, lalu kita tolak dan beralasan dengan berbagai argumen yang menurut logika dan perasaan kita benar, maka itu secara tidak langsung MENOLAK KEBENARAN.

Sedangkan terdapat keterangan bahwa sombong itu bukan hanya orang yang suka pamer, bukan orang yang suka merendahkan orang lain, bukan hanya orang yang ingin dipandang lebih mulia daripada orang lain. Akan tetapi orang yang sombong adalah yang suka MENOLAK KEBENARAN.

Sebagaimana yang dikatakan dalam hadits shahih dibawah ini :

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. (HR. Muslim no. 91)

***

 

Alhamdulillah, jawaban atas pertanyaan “Bolehkah ISBAL tanpa bermaksud SOMBONG” sudah diuraikan dengan cukup terperinci, yang mudah-mudahan menjadi jalan turunnya hidayah Allah subhanahu wa ta’ala untuk mengamalkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.

Kami hanya sekedar membagikan dan menginformasikan penjelasan berdasarkan hadits shahih. Masalah antum mau menerima dan mengamalkannya atau tidak, semua kembali kepada masing masing. Kami hanya ingin menjalankan kewajiban untuk “Saling berwasiat dalam kebenaran”.

Jika antum memiliki argumen secara logika maupun perasaan, yang bisa menyanggah kesimpulan yang dijelaskan diatas, maka silahkan saja! Antum diberikan kehendak oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk mengambil pilihan hidup sesuai yang antum inginkan. Akan tetapi apabila kita ingin lebih berhati-hati dalam menjalankan hidup yang singkat di dunia ini, agar bisa mendapatkan kebahagiaan di kehidupan yang kekal nanti (akhirat). Maka menerima sunnah, mengamalkan sunnah, serta meyakini kebenaran sunnah tanpa keraguan sedikitpun insyaa Allah akan membuat kita lebih selamat daripada mengikuti keinginan dan hawa nafsu.

Semoga bermanfaat… Barokallahu fiikum…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: