Hikmah dan Balasan di Balik Setiap Musibah yang Menimpa

Bismillah…

Hari Ahad kemarin, tepatnya tanggal 10 Maret 2019 pemberitaan di Indonesia dikejutkan dengan tergelincirnya sebuah kereta rel listrik (KRL) jurusan Jatinegara – Bogor.

Kejadian anjlok dan tergulingnya kereta api tersebut tepatnya terjadi di kawasan Kebon Pedes, Tanah Sereal – Kota Bogor tak lama setelah berlalu melewati stasiun Cilebut.

Selain mencari tahu sebab dan kronologis atas musibah tersebut, kita pun harus meyakini dalam hati, bahwa segala hal yang terjadi di dunia ini, baik hal yang menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan dalam pertimbangan manusia, semua sudah menjadi ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan hal tersebut sudah tercatat di Lauhul Mahfudz.

Qodarullah wa maa sya’a fa’ala…

Artikel kali ini tidak akan membahas lebih lanjut tentang kejadian anjlok dan tergulingnya kereta api tersebut, karena selain musibah tersebut masih banyak jenis musibah lain yang belum lama ini melanda saudara-saudara kita di Indonesia, seperti gempa, tsunami, air bandang, longsor, gunung meletus dan lain sebagainya.

Artikel kali ini akan mengulas tentang tentang bagaimana sebaiknya seorang muslim mengambil hikmah dari setiap musibah yang menimpa.

 

Segala Ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah yang Terbaik

Ketika mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, kebanyakan manusia lupa bahwa segala nikmat dan hal-hal menyenangkan tersebut merupakan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang patut disyukuri, dengan cara meyakini dalam hati bahwa itu adalah pemberian Allah, berterima kasih atas pemberian tersebut, serta memanfaatkannya di jalan yang Allah Ridhoi.

Akan tetapi, saat musibah melanda, hanya sedikit orang yang bersabar dan menyandarkan segala ketetapan tersebut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kebanyakan dari mereka mencela, menyalahkan, merasakan penyesalan yang teramat dalam, hingga mulai berfikir dan berandai-andai dengan kalimat-kalimat yang seakan tidak menerima dan tidak ikhlas dengan kejadian yang telah Allah tetapkan.

Agar kita tidak menjadi orang yang seperti itu, maka ada satu kaidah penting yang harus senantiasa diingat dalam menjalani kehidupan dunia ini. Yakni petunjuk yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan dalam surat Al-Baqarah ayat 216, yang berbunyi :

 

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

(QS. Al-Baqarah: 216).

 

Kejadian yang kita benci, bisa jadi itu merupakan hal yang baik bagi kita. Dan hal yang kita sukai, bisa jadi itu merupakan hal yang buruk bagi kita. Demikian juga musibah yang menimpa, tidak mesti hal tersebut merupakan sesuatu yang buruk dan tidak baik! Karena pasti ada hikmah yang ingin Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada setiap hamba-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.

Selain itu, yakinilah bahwa setiap kesulitan, kesusahan, kepayahan, dan hal-hal yang kita benci, apabila menimpa diri kita, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkan kebaikan yang banyak sesuai tingkatannya. Sebagaimana yang telah diterangkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut ini :

 

فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”

(QS. An-Nisa’: 19).

 

Cara Menyikapi Musibah Sesuai Syari’at Islam

Sebagai muslim, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan syari’at-Nya untuk kita ikuti dan amalkan. Demikian juga ketika tertimpa musibah. Ada cara menyikapi musibah yang harus kita lakukan, sebagaimana yang bisa kita teladani dari kisah tentang musibah yang menimpa Ummu Salamah ketika ditinggal wafat oleh suaminya Abu Salamah radhiyallahu ‘anhu.

 

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Tiada seorang muslim yang ditimpa musibah, lalu ia mengucapkan doa yang diperintahkan oleh Allah :

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

Sesungguhnya kami milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, limpahkan pahala kepadaku atas musibah yang menimpaku dan berikanlah gantinya yang lebih baik, Kecuali Allah akan memberi gantinya yang lebih baik”

Ummu Salamah berkata, Ketika Abu Salamah meninggal dunia aku bertanya, ’Siapa di antara seorang mu’min yang lebih baik dari Abu Salamah?! Siapakah penghuni rumah yang pertama kali hijrah kepada Rasulullah?! Kemudian aku mengucapkan doa di atas. Lalu Allah menggantikannya dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam

(HR. Muslim no. 918).

 

Demikianlah akhlak yang ditunjukkan oleh Ummu Salamah dalam menjalankan apa yang telah disyari’atkan untuk dilakukan ketika tertimpa musibah, yakni :

 

  1. Bersabar,
  2. Membaca istirja’ (kalimat inna lillahi wa inna ilaihi raji’un), dan
  3. Mengucapkan doa di atas.

 

Jika ketiga hal di atas dilakukan dengan ikhlas, ridho, serta tawakkal, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menggantinya dengan yang terbaik, yang tidak terbayangkan sebelumnya. Insyaa Allah…

Selain melakukan 3 hal di atas, sebagai muslim beriman kita pun harus melakukan introspeksi dan muhasabbah diri atas musibah yang menimpa! Karena bisa jadi, musibah yang dialami tersebut dikarenakan dosa dan kesalahan kita. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an :

 

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”

[QS. Asy Syuraa: 30]

Oleh karena itu, kita pun dianjurkan untuk memperbanyak taubat dan ber-istighfar agar dengan amalan tersebut bisa mengangkat dan menghapuskan dosa-dosa yang telah kita perbuat.

Imam Ibnul  Qayyim rahimahullah (dalam Miftah Daris Sa’adah, 1:287) mengatakan,

 

وَمَا نَزَلَ بَلَاءٌ قَطُّ إلَّا بِذَنْبٍ وَلَا رُفِعَ إلَّا بِتَوْبَةٍ

“Tidaklah suatu bala’ turun melainkan karena dosa, dan tidaklah bala’ tersebut akan diangkat melainkan dengan taubat.” (Mausu’ah Nadhrotin Na’im, 1:18)

 

Imam Al-Qurthubi rahimahullah (wafat: 671 H) mengatakan,

 

وَالِاسْتِغْفَارُ وَإِنْ وَقَعَ مِنَ الْفُجَّارِ يُدْفَعُ بِهِ ضَرْبٌ مِنَ الشُّرُورِ وَالْأَضْرَارِ

“Istigfar jika dipanjatkan oleh orang-orang bejat (sekalipun), bisa menolak terjadinya hal-hal yang buruk dan mampu menepis berbagai kemudaratan.” (Tafsir al-Qurthubi, 7:399)

 

 

Hal Yang Allah Berikan kepada Orang yang Diberi Musibah

Dari penjelasan di atas, bisa kita ambil kesimpulan, bahwa ada banyak sekali hal yang Allah Subhanahu wa Ta’ala akan berikan kepada orang yang diberikan musibah di dunia, antara lain :

 

  • Kebaikan yang banyak,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 19).

 

  • Pahala yang sangat banyak,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. [Al-Baqarah/2: 155]

 

  • Dosa-dosa terhapuskan,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ، وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا،
إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanaan, termasuk duri yang menusuknya, melainkan Allâh akan menghapus sebagian dari kesalahan-kesalahannya.”

(Shahih: HR. Al-Bukhâri, no. 5641, dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dan Abu Sa’id Radhiyallahu anhu)

 

  • Ditingkatkan derajat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُشَاكُ شَوْكَةً فَمَا فَوْقَهَا، إِلَّا كُتِبَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةٌ

Tidaklah seorang Muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, melainkan ditetapkan baginya dengan sebab itu satu derajat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya.

(Shahih: HR. Muslim, no. 2572  dari Aisyah Radhiyallahu anhuma.)

 

  • Ganti lebih baik yang tidak pernah kita fikirkan.

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Tiada seorang muslim yang ditimpa musibah, lalu ia mengucapkan doa yang diperintahkan oleh Allah :

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

Sesungguhnya kami milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, limpahkan pahala kepadaku atas musibah yang menimpaku dan berikanlah gantinya yang lebih baik, Kecuali Allah akan memberi gantinya yang lebih baik”

Ummu Salamah berkata, Ketika Abu Salamah meninggal dunia aku bertanya, ’Siapa di antara seorang mu’min yang lebih baik dari Abu Salamah?! Siapakah penghuni rumah yang pertama kali hijrah kepada Rasulullah?! Kemudian aku mengucapkan doa di atas. Lalu Allah menggantikannya dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam

(HR. Muslim no. 918).

 

Itulah hal yang insyaa Allah akan kita dapatkan setelah dilanda musibah, dengan catatan kita menerima segala ketetapan Allah dengan ikhlas, sabar dan tawakkal serta melakukan cara menyikapi musibah sebagaimana yang dijelaskan di atas.

 

***

 

Demikianlah artikel tentang hikmah dan balasan terhadap musibah yang menimpa. Semoga apa yang dibagikan bisa memberikan wawasan baru tentang hikmah dari musibah, bagaimana cara seorang muslim dalam menghadapi setiap musibah yang menimpa, serta mengetahui bahwa dibalik setiap musibah terdapat banyak sekali balasan yang hanya akan diyakini oleh orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Penulis do’akan, semoga saudara-saudari kita yang menjadi korban dari musibah anjloknya kereta rel listrik yang terjadi hari Ahad kemarin diberikan kesabaran, kekuatan, dan keikhlasan dalam menjalani setiap kejadian yang telah menjadi ketetapan dan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikian juga do’a yang sama semoga tercurah kepada saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah dimanapun berada. Aamiin…

Semoga bermanfaat…

Barokallahu fiikum…

 

 

Bandung, 11 Maret 2019 / 04 Rajab 1440 H

Hamba Allah

 
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: