Jangan Ragu Untuk Menyebut KAFIR Kepada Non-Muslim

Bismillah…

Artikel ini ditulis karena munculnya kepedulian terhadap sesama kaum Muslimin yang mungkin sebagian ada yang mulai ragu untuk menyebut KAFIR kepada non-muslim.

Dalam artikel ini akan coba dipaparkan beberapa landasan dalil dari Al-Qur’an, Hadits, serta perkataan para ulama Salaf, yang mudah-mudahan bisa dijadikan pegangan kuat bagi umat Islam, agar jangan pernah ragu lagi dengan hal tersebut, walaupun beberapa hari kemarin sempat muncul statement yang keluar dari seseorang yang mengaku Islam, seorang pemuka dari salah satu ormas, yang mengatakan bahwa sebutan KAFIR hanya ada di zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam…

Subhanallah… Na’udzubillah…

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan hidayah dan taufik-Nya kepada orang tersebut, sehingga bisa rujuk dan segera kembali kepada jalan yang benar, yakni jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Tentang Sebutan Kafir dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an telah menegaskan sebutan KAFIR bagi beberapa golongan. Sebagaimana yang diterangkan dalam surat Al-Bayyinah ayat ke-1 :

 

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّىٰ تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ

Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.”

 

Dalam ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa orang-orang kafir adalah ahli kitab (umat yang diturunkan kitab kepada mereka, yakni kaum nasrani dan yahudi), serta orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah Subhahanu wa Ta’ala dalam peribadatannya.

Jika kemudian muncul perkataan yang keluar dari mulut manusia, yang mengatakan bahwa kita tidak boleh menyebut kafir kepada mereka, yang secara tidak langsung membantah apa yang dikatakan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an, maka perkataan siapa yang sepantasnya kita turuti dan yakini?

Jawabannya tentu saja perkataan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang harus kita yakini kebenarannya.

Semoga umat Islam yang mayoritas di Indonesia ini diberikan aqidah yang kuat dalam hatinya sehingga memiliki keyakinan yang kuat dalam beragama dan memegang syari’at Islam dengan teguh.

 

Tentang Toleransi Dalam Beragama

Banyak orang yang keliru dalam memahami makna toleransi, sehingga tidak sedikit yang kebablasan dengan hal tersebut! Sampai-sampai toleransinya merasuk hingga dalam urusan aqidah dan keyakinan.

Dalam kehidupan ber-sosial kita memang dianjurkan untuk ber-muamalah dengan baik, dengan sesama kaum muslimin ataupun dengan kaum kafir. Akan tetapi dalam hal aqidah dan keyakinan, maka kita harus tegas dan mengenal batasan masing-masing.

Dalam surat Al-Kafiruun, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan :
 

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ 

Katakanlah: “Hai orang-orang kafir,

لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ

Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ 

Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.

وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ

Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,

وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”.

 

Surat ini turun setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendapatkan penawaran dari kaum kafir Quraisy untuk saling melakukan pergantian peribadahan, pergantian keyakinan, dan pergantian aqidah.

Kaum musyrikin dan kafir Quraisy sudah kehabisan akal untuk menghadang dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang semakin melebar dan meluas, setelah dengan berbagai cara yang mereka lakukan, tidak ada satu pun yang berhasil menghadang penyebaran Islam ketika itu.
 

  • Islam tetap meluas walaupun umat Islam di boikot
  • Islam tetap meluas walaupun umat Islam dikeluarkan dan diusir dari Mekkah
  • Islam tetap meluas walaupun para budak yang masuk Islam disiksa dan dibunuh oleh majikannya

Akhirnya ditawarkanlah sebuah kesepakatan dan prinsip seperti yang ditawarkan oleh kafir Quraisy pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di masa silam. Ketika Al Walid bin Mughirah, Al ‘Ash bin Wail, Al Aswad Ibnul Muthollib, dan Umayyah bin Khalaf menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menawarkan pada beliau,

 

يا محمد ، هلم فلنعبد ما تعبد ، وتعبد ما نعبد ، ونشترك نحن وأنت في أمرنا كله ، فإن كان الذي جئت به خيرا مما بأيدينا ، كنا قد شاركناك فيه ، وأخذنا بحظنا منه . وإن كان الذي بأيدينا خيرا مما بيدك ، كنت قد شركتنا في أمرنا ، وأخذت بحظك منه

“Wahai Muhammad, bagaimana kalau kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami. Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagaian dari ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, kami akan amalkan hal itu. Sebaliknya, apabila ada dari ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya.” (Tafsir Al Qurthubi, 14: 425)

 

Ketika mendapatkan penawaran dan kesepakatan seperti itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak langsung menjawabnya, akan tetapi menunggu petunjuk dan wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang reaksi, jawaban, tanggapan yang sebaiknya diberikan atas penawaran tersebut.

Hingga akhirnya turunlah qur’an surat Al-Kafiruun sebagai penegasan tentang bagaimana sebaiknya seorang muslim bersikap dalam hal bertoleransi. Yakni penolakan tegas serta tidak boleh ada toleransi dalam urusan AQIDAH dan IBADAH.

 

2 Pelajaran dari Surat Al-Kafiruun

Dari surat Al-Kafiruun, ada 2 pelajaran yang bisa kita ambil, yakni :
 

  • Selain pengikut Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah KAFIR, termasuk kaum Yahudi dan Nasrani sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Bayyinah di atas.

Sebagai muslim yang beraqidah lurus, kita harus yakin dengan ketetapan tersebut dan tidak boleh ada keraguan sedikitpun tentang kekafiran mereka yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Dan apabila kita tidak meng-kafir-kan mereka, meragukan kekafiran mereka, maka kita terancam kafir, karena sebagaimana perkataan ulama yang menjelaskan tentang pembatal-pembatal keislaman :

“Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik atau meragukan kekafiran mereka, atau membenarkan kepercayaan mereka niscaya kafir secara ijma’.

(Kaidah ke-3 dari kitab Nawaqidul Islam karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab)

 

  • Surat Al-Kafiruun ini melarang kita dari sikap “Al-Mudahanah”,

Al-Mudahanah yaitu meninggalkan sesuatu yang benar (Syari’at Islam, peribadahan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) dan menggantikannya dengan mengikuti kebathilan (diluar Syari’at Islam, peribadahan kepada selain Allah, serta ajaran-ajaran yang tidak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ajarkan), yang semua itu dilakukan dengan tujuan supaya orang-orang kafir atau orang-orang bathil itu suka kepada kita.

Ayat berikut ini perlu diperhatikan.

وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). (QS Al-Qalam/ 68: 9).

 

Maksudnya,

وقال مجاهد: المعنى ودوا لو ركنت إليهم وتركت الحق فيمالئونك. تفسير القرطبي (18/ 230)

Maksudnya, sebagimana kata Mujahid: maknanya, mereka menginginkan kalau kamu condong kepada mereka dan kamu tinggalkan kebenaran (alhaq) maka mereka bersikap lunak kepadamu.

(Tafsir Al-Qurthubi dalam menjelaskan ayat 9 Surat Al-Qalam).

 

Al-Mudahanah merupakan perbuatan yang diinginkan oleh kaum musyrik dan kafir dari umat Islam, sehingga banyak sekali orang-orang yang mengaku Islam namun lemah Aqidahnya yang mengikuti keinginan kaum Kafir tersebut.

 

***

 

Demikianlah penjelasan berdasarkan dalil-dalil yang shahih yang bisa disampaikan pada kesempatan ini. Mudah-mudahan dengan pemaparan yang diberikan, bisa menjadikan keyakinan umat Islam semakin kuat dan kokoh, sehingga :
 

  1. Tidak ragu lagi untuk menyebut KAFIR kepada orang yang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,
  2. Meyakini kekafiran mereka
  3. Tidak membenarkan keyakinan dan kekafiran mereka

Semoga dengan meyakini ketiga hal tersebut, tidak menjerumuskan kita kepada unsur yang berpotensi membatalkan keislaman kita.

Dipersilahkan untuk membagikan artikel ini kepada keluarga, sahabat, teman, atau kerabat, serta saudara sesama Muslim. Semoga dengan ikhtiar kecil yang kita lakukan ini, bisa menjadi wasilah turunnya hidayah dan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kita semua bisa berada di jalan yang benar dan tetap berpegang teguh di jalan tersebut, terlebih di zaman yang semakin penuh dengan fitnah ini… Aamiin…

 

(Tulisan ini terinspirasi dari kuliah singkat yang disampaikan oleh al-Ustadz Iskandardinata, Lc. ba’da Shubuh tanggal 03 Rajab 1440 H di Mesjid Ash-Shiddiq, Bandung.)

 

 

Bandung, 10 Maret 2019 / 03 Rajab 1440 H

Hamba Allah

 
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: