Kajian Kitab Riyadhush Shalihin – Bab Akhlaq yang Baik

Bismillah…

Pembahasan kitab Bahzatun Naadhiriin – Syarah Riyadhush Shalihin karya Imam an-Nawawi yang disyarah oleh Syaikh Salim bin Abdil Hiilaali, alhamdulillah sudah sampai pada Bab Husnul Khuluq atau Akhlaq Yang Baik.

Apa yang dimaksud dengan “Akhlaq yang Baik“? Apa sajakah dalil yang menjelaskan tentang “Akhlaq yang baik”, insyaa Allah semua akan dibahas dalam tulisan kali ini.

Dalam Al-Qur’an, Allah telah menjelaskan tentang akhlaq yang baik dalam 2 ayat, yakni :

 

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qolam : 4)

 

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali-Imron : 134)

 

Fadhillatus Syaikh al-Utsaimin berkata : “Akhlaq yang baik itu ada ketika seorang hamba bersama dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan akhlaq yang baik itu ada ketika dia sedang bersama dengan hamba-hambar Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Dari perkataan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa akhlaq yang baik itu mencakup seluruh syari’at :

  • Secara vertikal – muamallah seorang hamba dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala
  • Secara horizontal – muamallah seorang hamba dengan sesama makhluq ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala

 

Akhlaq yang Baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Seorang hamba dikatakan memiliki akhlaq yang baik secara vertikal, yakni akhlaq yang baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketika :
 

  • Ridho dengan segala ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik takdir, syari’at, serta semua hukum-hukum yang telah Allah tetapkan,

Tentang kewajiban untuk ridho dan menerima segala ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dapat memperlihatkan seseorang memiliki akhlaq yang baik atau tidak.

Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala mentakdirkan sesuatu kepada seorang Muslim yang secara manusiawi dia tidak suka dengan ketetapan tersebut, akan tetapi  seorang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia ridho terhadapnya, menerimanya dan bersabar dengannya. Dan dia berkata dengan lisan dan hatinya, “Aku telah ridho…

 

  • Menerima semua ketetapan tersebut dengan berlapang dada,

Berkaitan dengan poin  ini, Allah telah memerintahkan kita untuk mengikuti (ittiba’) kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salaam, menjadikan teladan, timbangan-timbangan dari setiap keyakinan, perkataan, dan perbuatan Beliau,

 

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ

Maka demi Rabbmu, mereka tidaklah beriman sampai mereka menjadikanmu sebagai hakim di dalam perkara yang mereka perselisihkan” (QS. An-Nisaa: 65)

 

  • Tidak ada rasa kesal dan sedih dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala

Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan sebuah hukum atasnya dengan hukum syar’i, maka dia ridho dan menerima, serta dia tunduk kepadanya dengan sepenuh hati.

 

Akhlaq yang Baik Kepada Sesama Makhluk

Adapun yang dimaksud dengan akhlaq yang baik yang sifatnya horisontal, atau hubungan dengan sesama makhluq Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah dengan memperbagus akhlaqnya bersama hamba-hamba Allah, makhluk-makhluk ciptaanNya.

Sebagaimana yang dikatakan sebagian ulama, bahwasanya akhlaq yang baik terhadap sesama makhluk adalah :
 

  • Tidak berbuat dzolim kepada mereka

Dzolim disini maksudnya tidak memberikan gangguan, baik dengan lisannya maupun ucapannya. Sebagaimana hadits yang berbunyi :

 

Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no.10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

 

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya”

 

Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Muslim no.64 dengan lafaz.

 

إِنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيِّ الْمُسْلِمِيْنَ خَيْرً قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah orang muslim yang paling baik ?’Beliau menjawab, “Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya”.

 

Hadits diatas juga diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir hadits no. 65 dengan lafaz seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abdullah bin Umar.

 

  • Berbuat baik kepada mereka

Yang dimaksud dalam poin ini adalah seorang muslim yang memiliki akhlaq baik adalah adalah yang senantiasa memberikan sesuatu yang baik kepada sesamanya, baik berupa harta, dengan ilmu, serta dengan kedudukan yang ada pada dirinya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

 

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).

 

  • Menunjukkan raut muka yang berseri kepada mereka

Diantara ciri akhlaq yang baik kepada sesama adalah dia menghadapi manusia dengan wajah yang berseri-seri, tidak menampakkan muka yang masam, tidak meremehkan hal-hal kecil dari orang lain, serta tidak memalingkan wajah.

 

Fadhilatus Syaikh al-Hilali mengatakan, Allah yang Maha Melindungi hamba-Nya telah menyampaikan berita bahwa Rasul-Nya yang sekaligus hamba-Nya, telah menjadi permisalan Al-Qur’an, yaitu sosok manusia yang telah mempraktekkan seluruh isi yang terdapat dalam Al-Qur’an, baik yang berkaitan dengan perintah Allah maupun yang berkaitan dengan larangan Allah.

 

  • Segala perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah ditunaikan
  • Segala larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah ditinggalkan

Hal tersebut sudah menjadi akhlaq dan kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam, dan telah diberikan kekuatan sehingga mampu meninggalkan tabi’at bawaannya, dan menggantinya dengan tabi’at yang diperintahkan dalam Al-Qur’an.
 

  • Apa yang telah diperintahkan telah dilakukan
  • Apa yang telah dilarang telah ditinggalkan

Oleh sebab itu, jika kita ingin mengetahui bagaimana akhlaq baik yang sesuai dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka jadikanlah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai panutan, teladan, dan contoh bagi kita semua.

Mari amalkan dan contoh setiap sunnah-sunnah beliau, bagaimana beliau ketika bersama sahabat, bagaimana akhlaq beliau terhadap anak kecil, bagaimana akhlaq beliau terhadap orang yang mencelanya, bagaimana akhlaq beliau terhadap orang yang istri dan keluarganya, dan yang terpenting bagaimana akhlaq beliau terhadap Robb-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

(Qur’an Surat al-Ahzab : 21)

 

Semua akhlaq tersebut hanya akan didapat dengan mempelajari ilmu agama Islam yang berlandaskan pada sumber hukum yang terpercaya, yakni Al-Qur’an dan sunnah dengan pemahaman para Shalafush Shalih.

Semoga kita semua bisa dikaruniai hidayah dan taufik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memiliki akhlaq yang baik (husnul khuluq) dengan mencontoh dan meneladani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam… Aamiin yaa robbal ‘aalamiin..

Barokallahu fiikum…

 

 

 

 

(Penjelasan berdasarkan faidah hadits dari kitab Syarah Riyadhush Shalihiin yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad Wijaya pada kajian rutin hari selasa Ba’da Maghrib di Mesjid Ash-Shiddiq, Kebon Gedang – Bandung)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: