Keistimewaan Tauhid Dan Orang Yang Mengamalkannya

“TAUHID”..

Sebuah kata yang sudah sering kita dengar! Akan tetapi banyak yang belum memahami maknanya dengan benar, termasuk umat Islam sendiri! Sehingga dalam pengamalan pun masih banyak penyelewengan dan kekeliruan yang terjadi pada umat Islam di Indonesia pada khususnya, dan di seluruh dunia pada khususnya.

 

Definisi Tauhid

Sebelum membahas tentang keistimewaan tauhid dan orang yang mengamalkannya, terlebih dahulu akan kami uraikan dengan singkat tentang definisi Tauhid.

Berdasarkan pendapat para ulama, TAUHID adalah “Keyakinan tentang keesaan Allah subhanahu wa ta’ala dalam rububiyyah-Nya, mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya (dalam uluhiyyah-Nya), serta menetapkan nama-nama dan sifat-sifat kesempurnaan bagi-Nya“.

 

Kedudukan & Keistimewaan Tauhid

Tauhid memiliki keistimewaan yang sangat tinggi! Kedudukan ini menjadi salah satu alasan kenapa Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia dan jin, sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an :

 

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Az-Zariyat 51:56)

 

Dari keterangan dalil di atas, maka sudah jelas bahwa tauhid sebagaimana definisi yang dijelaskan di atas, sangat sesuai dengan tujuan penciptakan kita. Jadi, secara otomatis tujuan kita diciptakan ke dunia ini, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk ber-TAUHID kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Selain itu, Tauhid juga merupakan salah satu tujuan diutusnya pada Rasul, dan materi dakwah yang mereka sampaikan pun adalah tentang Tauhid. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

 

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّٰغُوتَ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى ٱللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ ٱلضَّلَٰلَةُ ۚ فَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُكَذِّبِينَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (An-Nahl 16:36)

 

Selain dua dalil yang menjelaskan tentang kedudukan dan keistimewaan Tauhid, terdapat dalil lain yang menjelaskan tentang larangan dan keharaman yang paling besar berupa lawan dari “Tauhid”, yakni “Syirik”. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

قُلْ تَعَالَوْا۟ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۖ وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَوْلَٰدَكُم مِّنْ إِمْلَٰقٍ ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ ۖ وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلْفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ۖ وَلَا تَقْتُلُوا۟ ٱلنَّفْسَ ٱلَّتِى حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلْحَقِّ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya). (Al-An’am 6:151)

 

Keistimewaan Orang Yang Bertauhid

Dari penjelasan singkat tentang definisi tauhid serta keistimewaan dan kedudukannya, maka kita pun sebaiknya mengetahui tentang hal istimewa yang akan didapatkan oleh Ahli Tauhid (orang yang mengamalkan tauhid dengan murni), diantaranya :

 

  • Ahli Tauhid mendapatkan Hidayah dan Ketenangan

Hidayah Allah subhanahu wa ta’ala itu mahal harganya. Dan tidak bisa dibeli dengan nilai uang berapapun! Akan tetapi, karunia ini akan Allah berikan kepada mereka yang mengamalkan tauhid dengan baik.

Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

 

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَمْ يَلْبِسُوٓا۟ إِيمَٰنَهُم بِظُلْمٍ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al-An’am 6:82)

 

  • Ahli Tauhid mendapatkan kehidupan yang baik selama di dunia, dan mendapatkan pahala melimpah di akhirat karena diterimanya amalannya

Berbicara tentang kehidupan baik selama di dunia, maka indikator yang dimaksud bukan sebatas materi, bukan sebatas fisik sempurna, apalagi harta yang banyak. Akan tetapi, kebaikan yang dimaksud adalah tentang kebahagiaan yang dirasakan hati, berkahnya harta, waktu, dan ilmu yang dimiliki, serta setiap amalan yang dilakukan oleh ahli Tauhid akan mendapatkan jaminan pasti untuk diterima, yang ketika di akhirat nanti akan didapatkan pahala dan balasannya.

Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

 

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (An-Nahl 16:97)

 

  • Ahli tauhid dijamin masuk surga

Salah satu keistimewaan yang akan didapatkan oleh ahli Tauhid, adalah jaminan masuk surga dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salaam bersabda,

 

من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمداً عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله وكلمته ألقاها إلى مريم وروح منه، والجنة حق، والنار حق أدخله الله الجنة على ما كان من العمل

Barangsiapa yang bersyahadat (bersaksi)  bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, dan ‘Isa adalah hamba dan rasul-Nya, dan kalimat yang disampaikan-Nya kepada Maryam serta ruh dari-Nya, dan bersaksi bahwa surga dan neraka benar adanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga, sesuai amal yang telah dikerjakakannya”[H.R Bukhari 3435 dan Muslim 28]

 

Syahadat yang diamalkan dengan konsisten dan konsekuen, akan memberikan kebaikan kepada orang yang mengamalkannya, berupa surga dan berbagai kenikmatannya. Akan tetapi, tingkat surga yang didapatkan kembali pada tingkatan amal dan keikhlasannya selama hidup di dunia. Namun semua Ahli tauhid, seburuk-buruknya amalan ibadah yang dilakukan, tetap dijamin masuk surga.

 

  • Ahli tauhid terbebas dari adzab dan api neraka

Terdapat sebuah hadits yang menceritakan :

 

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ كُنْتُ رِدْفَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ قَالَ فَقَالَ « يَا مُعَاذُ تَدْرِى مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ ». قَالَ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ». قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ أُبَشِّرُ النَّاسَ قَالَ « لاَ تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا »

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata, “Aku pernah membonceng Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas keledai yang diberi nama ‘Ufair. Beliau bertanya, “Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah yang wajib ditunaikan oleh hamba dan apa hak hamba yang akan Allah tunaikan?” Mu’adz berkata, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah yang wajib ditunaikan oleh hamba, hendaklah ia menyembah Allah dan tidak berbuat syirik pada-Nya dengan sesuatu apa pun. Sedangkan hak hamba yang akan Allah tunaikan yaitu Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik kepada-Nya dengan sesuatu apa pun.” Mu’adz berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku boleh memberitahukan kabar gembira tersebut pada yang lain?” Beliau menjawab, “Jangan kabari mereka. Nanti malah mereka malas beramal.” (HR. Bukhari no. 5968 dan Muslim no. 30).

 

Tentunya, hak Allah subhanahu wa ta’ala ini harus ditunaikan dengan baik, serta memenuhi syarat dan rukunnya dengan berbagai konsekuensinya.

 

  • Bobot timbangan Tauhid lebih berat dari bobot timbangan langit & bumi

timbangan tauhid

Nabi shallallahu ‘alaihi wassalaam bersabda :

 

“Musa ‘alaihis salam pernah berkata: “Wahai Rabb-ku! Ajarkan kepadaku sesuatu yang bisa kugunakan untuk berdzikir dan berdoa kepada-Mu.” Allah menjawab: “Katakanlah, wahai Musa: laa ilaaha illallaah.” Musa berkata: “Wahai Rabb-ku! Semua hamba-Mu mengatakan ucapan ini?”. Allah berkata: “Wahai Musa! Seandainya langit yang tujuh beserta seluruh penghuninya selain Aku, demikian pula bumi yang tujuh diletakkan di atas daun timbangan, kemudian laa ilaaha illallaah di atas daun timbangan yang satu, niscaya yang lebih berat adalah timbangan laa ilaaha illallaah.” (HR. Ibnu Hibban dan al-Hakim. al-Hakim menyatakan hadits ini sahih).

 

Bobot timbangan Tauhid demikian beratnya, dan bahkan dengannya bisa melebihi berat bobot timbangan langit & bumi serta dosa yang sepenuh jagad sekalipun.

Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang terkenal dengan sebutan hadits “bithaqah” atau kartu sebagaimana yang akan diuraikan lebih lanjut pada sub judul di bawah.

 

  • Ahli Tauhid bisa diampuni seluruh dosanya

Dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَسْتَخْلِصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ قَالَ: لَا، يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: أَلَكَ عُذْرٌ، أَوْ حَسَنَةٌ؟ فَيُبْهَتُ الرَّجُلُ، فَيَقُولُ: لَا، يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: بَلَى، إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً وَاحِدَةً، لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ، فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ، فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، فَيَقُولُ: أَحْضِرُوهُ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ ! فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ، قَالَ: فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ، قَالَ: فَطَاشَتْ السِّجِلَّاتُ، وَثَقُلَتْ الْبِطَاقَةُ، وَلَا يَثْقُلُ شَيْءٌ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan membebaskan seseorang dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu dibukakan kepadanya sembilanpuluh sembilan catatan amal. Setiap catatan sejauh mata memandang. Allah berfirman : ‘Apakah ada yang engkau ingkari dari semua hal ini ?. Apakah pencatatan-Ku (malaikat) itu telah mendhalimimu ?’. Orang itu berkata : ‘Tidak, wahai Tuhanku’. Allah berfirman : ‘Apakah engkau mempunyai ‘udzur/alasan atau mempunyai kebaikan ?’. Orang itu pun tercengang dan berkata : ‘Tidak wahai Rabb’. Allah berfirman : ‘Bahkan engkau di sisi kami mempunyai satu kebaikan’. Tidak ada kedhaliman terhadapmu pada hari ini’. Lalu dikeluarkanlah padanya sebuah kartu (bithaqah) yang tertulis : Asyhadu an Laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuuluh (aku bersaksi bahwasannya tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya). Allah berfirman : ‘Perlihatkan kepadanya’. Orang itu berkata : ‘Wahai Rabb, apalah artinya kartu ini dengan seluruh catatan amal kejelekan ini ?’. Dikatakan : ‘Sesungguhnya engkau tidak akan didhalimi”. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Lalu diletakkanlah catatan-catatan amal kejelekan itu di satu daun timbangan. Ternyata catatan-catatan itu ringan dan kartu itulah yang jauh lebih berat. Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat daripada nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (HR. Ahmad 6994, Turmudzi 2850 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

***

 

Betapa pemurahnya Allah subhanahu wa ta’ala.. Yang menetapkan ketentuan bahwa Tauhid merupakan hal paling istimewa yang harus diketahui dan diamalkan oleh setiap makhluk-Nya. Sebab hanya Tauhid murni yang akan menyelamatkan kita semua, baik di dunia dan di akhirat.

Bagi antum yang ingin mendalami ilmu Tauhid, maka bisa menghadiri kajian rutin yang diselenggarakan oleh Yayasan Imam Malik Bandung dan DKM Mesjid Ash-Shiddiq yang diadakan di Masjid Ash-Shiddiq, setiap hari selasa ba’da shubuh, rabu ba’da shubuh, sabtu pagi pekan ke-2 dan ke-4. (informasi lebih lanjut tentang jadwal kajian rutin di Yayasan Imam Malik Bandung bisa dilihat di HALAMAN INI)

Atau bagi antum yang tinggal di luar kota Bandung namun tetap ingin mendalami ilmu tentang Tauhid, maka bisa mempelajarinya dengan membaca salah satu kitab yang direkomendasikan berjudul “Mutiara Faidah Kitab Tauhid“. Buku ini direkomendasikan karena penjelasannya disusun secara sistematis dengan gaya bahasa yang mengalir, sehingga memudahkan setiap pembaca untuk mengerti dan memahami isi yang disampaikan.

Bagi antum yang ingin membeli bukunya, bisa membelinya di MIMBA Store.

Semoga bermanfaat dan mari perdalam keilmuan kita tentang Tauhid dan pengamalannya, untuk kebaikan dunia dan akhirat.

 

 

 

 

(Penjelasan merujuk pada buku “Mutiara Faidah Kitab Tauhid, yang ditulis oleh Ustadz Abu Isa bin Salam, dengan beberapa penambahan).

Incoming search terms:

  • jaminan allah bagi orang yang bertauhid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: