Ketahuilah, Ini Efek Maksiat di Dunia dan di Akhirat

Bumi, Dunia

 

Maksiat memiliki berbagai dampak yang banyak terhadap pelakunya sendiri, ataupun keluarga dan masyarakatnya, atau umatnya dan juga terhadap bumi, langit, laut, binatang, burung, dan lainya.

Allah ta’ala berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; karena Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum: 41)

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda,

اَلْعَبْدُ الْفَا جِرُ يَسْتَرِ يْحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ

“Hamba yang berdosa (jika mati), maka hamba-hamba, negeri, pohon dan binatang akan merasa aman darinya.” Muttafaq ‘alaih (al-Fath, 11/362 dan Muslim, no. 950)

Untuk pembahasan tentang dampak maksiat, terlebih dahulu harus diklasifikasikan menjadi tiga macam:

  1. Dampak maksiat terhadap pribadi di dunia,
  2. Dampak maksiat terhadap masyarakat,
  3. Dampak maksiat terhadap hamba di akhirat (di dalam kubur, Hari Kiamat, dan di dalam neraka).

 

Pertama: Dampak Maksiat terhadap Pribadi Di Dunia

Diantaranya:

 

1. Merusak hati

Maksiat menyebabkan pengagungan kepada Rabb azza wa jalla akan lemah di dalam hati; tidak lagi takut kepada Allah ta’ala dan tidak pula merasa diawasiNya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Keagungan Allah ta’ala di dalam hati hamba menuntut (kewaspadaan) yang lebih besar pada larangan-laranganNya yang memisahkan antara dia dan dosa.” (Al-Jawab al-Kafi, hal. 74).

Demikian pula, dosa menghilangkan dan mengubah kehidupan hati. Di dalam hadits,

إِذَا لَمْ تَسْتَحِ ٌفَاصْنَعْ مَا ثِئْتَ

“… jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. al-Bukhari, no. 3484, lihat al-Fath, 6/515)

Demikian pula, maksiat akan membalik hati dan melencengkanya. Sehingga yang buruk menjadi bagus, dan yang bagus menjadi buruk. Yang ma’ruf menjadi mungkar, dan yang mungkar menjadi ma’ruf. Hingga benarlah padanya Firman Allah ta’ala,

وَطَبَعَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“… dan Allah telah mengunci mati hati mereka, sehingga mereka tidak mengetahui.” (At-Taubah: 93)

Sebagaimana dosa dan maksiat akan melahirkan ketakutan dalam hati orang yang melakukan maksiat, serta rasa sempit dada. Orang yang di hatinya masih ada sedikit kehidupan dan Iman akan merasakan ketakutan ini, ketakutan (yang terjadi) antara orang yang bermaksiat dan penciptanya, antara dia dan manusia, bahkan antara dia dan dirinya sendiri. Adapun orang yang telah mati hatinya, maka tidak akan merasakan.

Begitu pula, maksiat akan melemahkan hati, menggelapkannya, lalu dia merasakan ada kegelapan di dalam relung jiwanya, berbeda dengan orang yang taat.

Ibnu al-Mubarak rahimahullah berkata,

Kulihat dosa mematikan hati, kecanduan maksiat terkadang melahirkan kehinaan

Meninggalkan maksiat adalah hidupnya hati, sebaiknya kamu mengingkarinya.

 

2. Diantara dampak maksiat terhadap pribadi di dunia, adalah hukuman-hukuman syar’I, yaitu hudud, kaffarat, dan ta’zir.

Hudud, misalnya had zina, had khamar, had qadzaf (menuduh zina).

Adapun kaffarat, di antaranya kaffarat senggama di siang Ramadhan dan kaffarat zhihar (menyiksa istrinya dengan membiarkanya “Jablai”).

Sedangkan ta’zir (hukuman yang ditentukan oleh hakim), yaitu tahanan, pengucilan, jald (dera), pukulan, dan terkadang dapat mencapai hukuman mati.

 

3. Hukuman-hukuman qadari (bersifat takdir).

Hukuman yang menimpa manusia yang dalam agama ataupun dunianya, dan ataupun kedua-duanya, berupa ujian, cobaan bala’, dan musibah-musibah lainya dengan beragam bentuknya yang disebabkan oleh maksiat.

Allah ta’ala berfirman,

وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَىٰ دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Kami benar-benar akan timpakan kepada mereka sebagian siksa yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (As-Sajdah: 21)

Para ahli tafsir berkata, “Yang dimaksud dengan azab yang dekat, yaitu musibah-musibah dunia, macam-macamnya, dan kehancuran-kehancuranya…” (Ibnu Katsir, 3/462).

Hukuman-hukuman ini bagi seorang Muslim, adalah untuk mengangkat derajat, atau menghapus kesalahan, ataupun sebagai balasan terhadap kezhalimannya.

Allah ta’ala berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Musibah apapun yang menimpa kalian, maka adalah disebabkan perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (kesalahan-kesalahan itu).” (Asy-Syura: 30)

 

4. Diantara dampak maksiat terhadap pribadi di dunia, dikatakan oleh Ibnu Abbas, “… dan sungguh dosa menyisakan hitam di wajah, gelap di hati, lemah pada fisik, kurang dalam rizki, dan kebencian di hati makhluk.

Masih berlanjut insyaAllah, semoga Allah mudahkah penulis.

 

Referensi:

  1. Kumpulan Ceramah Pilihan Menggugah Jiwa Menyentuh Kalbu (Judul Asli: Dzikrullah — Durus fi ar-Raqa’iq wa az-Zuhd. Penerjemah: Jamaluddin,Lc. Muraja’ah: Tim Pustaka DH), Ibrahim Abdullah Bin Saif Al-Mazru’i, Darul Haq Jakarta, 2013 M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *