Sebab Sebab Munculnya Bid’ah di Kalangan Umat Islam Bag. 1

Jika kita mengkaji syari’at Islam dengan merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah, kemudian pada pemahaman dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalaam, kemudian merujuk pemahaman para tabi’in, kemudian para tabi’ut tabi’in, hingga pemahaman para ulama salaf. Maka akan kita dapati, betapa banyak sekali amalan, ritual, dan bentuk bentuk ibadah yang sama sekali belum ada contohnya dari semua sumber diatas.

Semua amalan, ritual, dan bentuk ibadah baru yang sama sekali tidak disyari’atkan bahkan tidak ada contoh sebelumnya, walaupun amal ibadah tersebut diniatkan agar bisa lebih maksimal serta mengharap keridhoan Allah subhanahu wa ta’ala, maka itu termasuk BID’AH karena menyelisihi kesempurnaan syari’at yang telah Allah subhanahu wa ta’ala sampaikan melalui Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wassalaam.

Sudah banyak sekali keterangan yang memperingatkan umat Islam agar berpegang teguh kepada tali (agama Allah), serta menjauhi perkara baru (BID’AH) dalam hal agama. Telah banyak pula penjelasan para ulama tentang definisi BID’AH, baik dari segi bahasa dan segi istilah. Sebagaimana yang bisa antum baca lebih lanjut dalam Artikel Ini

Dan pada kesempatan kali ini, insyaa Allah akan coba kami bahas tentang alasan kenapa saat ini muncul begitu banyak bid’ah di kalangan umat Islam. Semua akan terjawab dengan menguraikan beberapa sebab sebab munculnya bid’ah berikut ini :

 

Sebab #1 : KEBODOHAN TENTANG SYARI’AT ISLAM

Banyak sekali umat Islam yang sudah lupa akan kewajiban menuntut ilmu! Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalaam telah menyampaikan perintah tentang kewajiban menuntut ilmu ini dalam sebuah hadits :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim.”

[Hadits shahih li ghairihi, diriwayatkan Ibnu Majah (no. 224), dari jalur Anas bin Malik radhiyallahu’anhu. Hadits ini diriwayatkan pula oleh sekelompok para shahabat, seperti Ali bin Abi Thalib, ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin Mas’ud, Abu Sa’id Al-Khudriy, Al-Husain bin ‘Ali, dan Jabir radhiyallahu’anhum. Para ulama ahli hadits telah menerangkan jalur-jalur hadits ini dalam kitab-kitab mereka, seperti: Imam As-Suyuthi dalam kitab Juz Thuruqi Hadits Tholabil Ilmi Faridhotun ’Ala Kulli Muslimin, Imam Ibnul Jauzi dalam kitab Al-Wahiyat (I/67-71), Imam Ibnu ‘Abdil Barr dalam kitab Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/69-97), dan Syaikh Al-Albani dalam kitab Takhrij Musykilah Al-Faqr (hal. 48-62)]

Akibat dari kurangnya minat dan keinginan untuk menuntut ilmu syar’i ini, menjadikan manusia lalai dan tidak tahu tentang apa yang disyari’atkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, tidak tahu tentang uslub bahasa Arab, serta tidak memahami bagaimana manhaj para sahabat serta ulama salaf dalam hal ibadah.

Semua ketidaktahuan ini hanya akan teratasi dengan menuntut ilmu syar’i. Karena sebagaimana kutipan perkataan imam Asy-Syafi’i rahimahullah

Al-Ilmu Nuurun = Ilmu itu adalah cahaya

Maka dengan cahaya tersebut, manusia bisa berjalan di kegelapan hingga mencapai tempat tujuannya. Dengan cahaya tersebut kita jadi tahu dan menghindar apabila di depan kita ada lubang yang bisa membuat terperosok. Dengan cahaya tersebut kita bisa menghindar dari duri yang ada di samping kita. Dan dengan cahaya tersebut kita bisa tahu jalan mana yang sebaiknya dipilih untuk sampai ke tujuan.

Tapi tanpa cahaya (ilmu), maka kita selamanya akan berjalan dalam kegelapan, sehingga berpotensi menjerumuskan kita dalam lubang, mencelakakan kita dengan duri tajam, serta membuat kita hanya berputar putar tanpa tahu arah tujuan yang hakiki.

Jadi, inilah sebab yang pertama! Kebodohan yang dikarenakan kurangnya menuntut ilmu syar’i, menjadikan manusia TIDAK TAHU dan tidak bisa membedakan antara tauhid dan syirik, antara sunnah dan bid’ah. Sehingga mulailah muncul berbagai bid’ah yang berlangsung secara turun temurun.

 

Sebab #2 : MENGIKUTI HAWA NAFSU

Merujuk pada dalil Al-Qur’an surat Adz-Dzariyaat ayat 56, disana Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk IBADAH.

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S. Adz-Dzariyaat [51] : 56)

Akan tetapi, ketentuan tentang bagaimana cara beribadah, mulai dari niat, tata cara, dan aplikasinya dalam kehidupan ini Allah saja yang berhak untuk menetapkannya. Dan semua itu sudah diterangkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

Tidak boleh kita beribadah sesuai keinginan dan hawa nafsu kita. Karena di jaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalaam pun, diriwayatkan kisah tentang sahabat yang ingin memaksimalkan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara-cara yang menurut hawa nafsunya itu BAIK. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadist berikut ini :

وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوْتِ أزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَسْأَلُوْنَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَلَمَّا أُخْبِرُوْا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوْهَا، وَقَالُوْا: أَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ وَقدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. قَالَ أَحَدُهُمْ: أَمَّا أَنَا فَأُصَلِّيْ اللَّيْلَ أَبَداً، وَقَالَ الْآخَرُ: وَأَنَا أَصُوْمُ الدَّهْرَ أَبَداً وَلَا أُفْطِرُ، وَقَالَ الْآخَرُ: وَأَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَداً.

فَجَاءَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ، فَقَالَ: أَنْتُمُ الَّذِيْنَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا ؟ أَمَا وَاللهِ إِنِّيْ لَأَخْشَاكُمْ لِلهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّيْ أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ

Dari Anas Radhiyallahu anhu ia berkata, “Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya tentang ibadah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Lalu setelah mereka diberitahukan (tentang ibadah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ), mereka menganggap ibadah Beliau itu sedikit sekali. Mereka berkata, “Kita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam! Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diberikan ampunan atas semua dosa-dosanya baik yang telah lewat maupun yang akan datang.” Salah seorang dari mereka mengatakan, “Adapun saya, maka saya akan shalat malam selama-lamanya.” Lalu orang yang lainnya menimpali, “Adapun saya, maka sungguh saya akan puasa terus menerus tanpa berbuka.” Kemudian yang lainnya lagi berkata, “Sedangkan saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan menikah selamanya.

Kemudian, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi mereka, seraya bersabda, “Benarkah kalian yang telah berkata begini dan begitu? Demi Allâh! Sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allâh dan paling taqwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka (tidak puasa), aku shalat (malam) dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.”

TAKHRIJ HADITS:

Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (no. 5063); Muslim (no. 1401); Ahmad (III/241, 259, 285); An-Nasâ-i (VI/60); Al-Baihaqi (VII/77); Ibnu Hibbân (no. 14 dan 317-at-Ta’lîqâtul Hisân); al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 96).

Dari hadits diatas, dapat kita simpulkan bahwa beribadah kepada Allah itu tidak bisa sekehendak dan semau kita, yang hanya didorong oleh hawa nafsu. Akan tetapi beribadahlah sebagaimana yang telah disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Syari’at Islam ini sudah sempurna, dan tujuan kita beribadah untuk menggapai ridho dan syurganya Allah sudah dijelaskan secara lengkap oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalaam. Sebagaimana hadits berikut ini :

مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ اْلجَنَّةِ وَ يُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

Tidaklah tinggal sesuatupun yang dapat mendekatkan kalian ke surga dan menjauhkan kalian dari neraka, melainkan sungguh-sungguh telah dijelaskan kepada kalian”.

[HR ath-Thabraniy di dalam al-Kabir dan Ahmad: V/ 153, 162 tanpa kalimat kedua. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hadits ini sanadnya shahih].

Terlalu mengikuti hawa nafsu inilah, yang menjadi salah satu dari sebab-sebab munculnya bid’ah.

***

Untuk kesempatan kali ini, 2 sebab itu saja yang bisa kami sampaikan. Insyaa Allah penjelasan lebih lanjut tentang sebab-sebab munculnya bid’ah akan diinformasikan secepatnya.

Semoga kita semua bisa lebih faham tentang ilmu syar’i yang bersumber pada Al-Qur’an dan sunnah, serta pemahaman pada shalafush shalih, dan lebih tunduk dan patuh dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan tidak mendahulukan hawa nafsu.

Aamiin yaa robbal’alaamin.

Barokallahu fiikum…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: