Syarah Fadhlul Islam – Bab Peringatan Dari Perkara Bid’ah

Bismillahirrahmanirrahiim

Dalam kitab Syarah Fadhlul Islam yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah, terdapat bab terakhir yang penting untuk diinformasikan penjelasannya, yakni tentang Bab Peringatan Dari Perkara Bid’ah.

 

Dalil Tentang Perintah Dan Peringatan Untuk Menjauhi Perkara Bid’ah

Bagi kaum muslimin, keterangan yang berkaitan dengan perintah dan peringatan untuk menjauhi perkara-perkara bid’ah sebenarnya telah diterangkan dengan jelas dalam Al-Qur’an dan Hadits.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

ثُمَّ قَفَّيْنَا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم بِرُسُلِنَا وَقَفَّيْنَا بِعِيسَى ٱبْنِ مَرْيَمَ وَءَاتَيْنَٰهُ ٱلْإِنجِيلَ وَجَعَلْنَا فِى قُلُوبِ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ٱبْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَٰهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ٱبْتِغَآءَ رِضْوَٰنِ ٱللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا ۖ فَـَٔاتَيْنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنْهُمْ أَجْرَهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَٰسِقُونَ

“Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik.” (Q.S. Al-Hadid 57:27)

Dalam ayat tersebut, terdapat kalimat “Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah“. Yang dimaksud dari kalimat tersebut adalah ada beberapa diantara umat nabi Isa ‘alaihissalam yang menjalankan pola hidup sebagai Rahib/Pendeta, dengan berbagai konsekuensi dan ketentuan yang sangat jauh bertentangan dengan syari’at Allah subhanahu wa ta’ala.

Walaupun mereka melakukan hal itu untuk mencari keridhaan Allah, tetapi apabila tidak ada syari’at untuk mengamalkannya, maka hal itu hanyalah perkara yang diada-adakan dan tertolak.

Sebab, sebuah amal yang dilakukan dalam rangka mencari keridhaan Allah tidak cukup dengan niat yang lurus saja! Akan tetapi amalan tersebut harus seiring dengan sunnah (petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalaam).

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman :

إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُوا۟ دِينَهُمْ وَكَانُوا۟ شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِى شَىْءٍ ۚ إِنَّمَآ أَمْرُهُمْ إِلَى ٱللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (Q.S. Al-An’am 6:159)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim no. 1718)

Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang biasa disampaikan ketika akan memulai khutbah,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867)

Itulah beberapa dalil dalam Al-Qur’an dan Hadits yang menjelaskan tentang perintah menjauhi perkara-perkara baru (Bid’ah).

 

Definisi Bid’ah Menurut Bahasa Dan Istilah

Penjelasan tentang definisi bid’ah secara bahasa bisa dilihat dalam qur’an surat Al-Baqarah ayat 117. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

بَدِيعُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ وَإِذَا قَضَىٰٓ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ

Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” (Al-Baqarah 2:117)

Dalam ayat tersebut ditulis kata “Badii’u” yang menunjukkan keterangan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi sebagai sesuatu hal baru yang tidak ada sebelumnya.

Dari dalil tersebut, maka Bid’ah secara istilah berarti “Perkara baru yang tidak ada contoh sebelumnya“.

Sedangkan penjelasan Bid’ah secara istilah ada banyak sekali pendapat yang disampaikan oleh para ulama. Namun pada kesempatan kali ini, akan kita ambil pendapatnya Imam Asy-Syatibi rahimahullah dalam kitabnya Al-I’tishom. Beliau berkata bahwa Bid’ah secara Istilah adalah :

Jalan atau cara yang baru di dalam agama, yang menyaingi syari’at, yang mana maksud menunaikannya, supaya dapat beribadah kepada Allah secara lebih maksimal.

***

Demikianlah penjelasan awal tentang Bab Peringatan dari perkara Bid’ah yang bisa disampaikan pada kesempatan kali ini. Insyaa Allah dalam artikel yang lain akan coba kita uraikan tentang “Sebab-sebab Munculnya Bid’ah di Kalangan Umat Islam“.

Semoga kita semua bisa memahami dengan benar tentang perkara Bid’ah ini, sehingga bisa menjauhi serta menghindarinya karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Akhir kata, semoga bermanfaat…

Barokallohu fiikum

 

 

 

(Diterangkan oleh Ustad Dadan Hidayatullah, Lc. pada kajian rutin malam jum’at tanggal 17 Agustus 2017 di Mesjid Ash Shiddiq Bandung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: