4 Teknik Menafsirkan Al-Qur’an Berdasarkan Pemahaman Manhaj Salaf

Al-Qur’an adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang disampaikan kepada nabi Mumammad Shallallahu ‘alaihi wassalam melalui perantaraan malaikat Jibril, untuk dijadikan pegangan dan pedoman hidup manusia agar selama dunia dan akhirat.

 

Pembagian Ayat Ayat Al-Qur’an

Dari keseluruhan isi Al-Qur’an yang berjumlah 114 surat, diantara ayat ayatnya ada yang sifatnya muhkamat dan sebagian sifatnya mutasyabihat. Dan khusus untuk ayat ayat Al-Qur’an yang sifatnya mutasyabihat inilah, umat Islam yang ingin mempelajari kandungan dan isi pesan dalam Al-Qur’an secara baik dan benar, maka diperlukan penafsiran lebih lanjut.

Lalu bagaimanakah cara atau teknik menafsirkan Al-Qur’an yang tepat? Mengingat banyak pihak yang memiliki perbedaan dan pemahaman dalam menafsirkan Al-Qur’an?

Oleh karenanya, penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana teknik yang benar dalam menafsirkan Al-Qur’an! Penjelasan inilah yang ingin kami angkat agar bisa memberikan penjelasan rinci tentang jawaban atas pertanyaan diatas.

 

4 Teknik Menafsirkan Al-Qur’an

Materi dalam artikel ini merujuk pada kitab Ushul Tafsir yang disyarah oleh Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah. Beliau menuliskan, bahwa ada 4 teknik menafsirkan Al-Qur’an, antara lain :

  1. Mentafsirkan ayat Al-Qur’an dengan dalil lain dalam Al-Qur’an yang memiliki keterkaitan,

  2. Jika tidak ada dalil lain dalam Al-Qur’an, maka penafsiran dilakukan menggunakan dalil dalam hadits hadits shahih,

  3. Jika penafsiran menggunakan kedua hal diatas dirasa kurang menjelaskan, maka penafsiran dilakukan berdasarkan pemahaman dan perkataan para sahabat yang memahami Al-Qur’an dan hadits dengan sangat baik,

  4. Jika setelah melalui ketiga poin diatas, penafsiran masih juga dirasa kurang maksimal, maka penafsiran dilakukan dengan merujuk pada perkataan para tabi’in yang mendalami ilmu tafsir dari pada sahabat.

Itulah 4 teknik menafsirkan Al-Qur’an yang difahami oleh para shalafush shaleh serta generasi sesudahnya yang mengikuti manhaj mereka.

 

Kenapa Pemahaman Dan Perkataan Para Sahabat Patut Dijadikan Hujjah?

Bagi kaum muslimin yang berpegang pada manhaj salaf, pertanyaan ini mungkin sudah bisa dijawab dengan tegas berdasarkan keterangan yang terdapat dalam al-qur’an dan hadits tentang keutamaan para sahabat.

Akan tetapi, hal ini penting untuk kami uraikan kembali dengan harapan bisa mengingatkan kembali, serta bisa memberikan wawasan baru bagi kaum muslimin yang belum mengetahuinya.

Berikut adalah beberapa hal yang mendasari kenapa pemahaman dan perkataan para sahabat patut dijadikan hujjah :

  1. Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa mereka,

  2. Umat terbaik diantara umat lainnya, sebagaimana tercantum dalam Qur’an surat At-Taubah ayat 100,

  3. Lebih tahu tentang Islam karena belajar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalaam,

  4. Sebaik baik manusia dan paling besar keimanannya berdasarkan hadits shahih,

  5. Di zaman para sahabat, belum terlalu banyak syubhat syubhat yang muncul.

Sebetulnya masih banyak alasan lain yang mengharuskan kita menjadikan pemahaman dan perkataan para sahabat sebagai hujjah. Akan tetapi, kelima poin diatas sudah bisa mewakili penjelasan tentang pertanyaan yang dijadikan sub judul diatas.

***

Demikianlah penjelasan tentang 4 teknik menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan pemahaman manhaj salaf yang bisa kami bagikan.

Semoga informasi ini bermanfaat untuk penulis pada khususnya, dan untuk semua pembaca pada khususnya.

Barokallohu fiikum…

 

 

 

 

(Dijelaskan oleh : Ustadz Dani Maulani, Lc. pada kajian kamis ba’da maghrib rutin tanggal 03 Agustus 2017 yang dilaksanakan di Mesjid Ash-Shiddieq Bandung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: