Allah Maha Mengetahui (bagian 2)

Sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu mengisahkan: “Pada suatu hari, kami sedang mengurus penguburan seorang jenazah di kuburan Baqi’ Al Gharqad, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjumpai kami, lalu beliau duduk, maka kamipun duduk di sekitarnya. Kala itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa sebatang tongkat, lalu beliau mengangguk-anggukkan kepalanya dan menggaris-gariskan tongkatnya ke tanah. Tak selang berapa lama, beliau bersabda:

 

مامِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ،مَامِنْ نَفْسٍ مَنْفُوْسَةٍ،إِلاَّوَقَدْكَتَبَ اللّٰهُ مَكَانَهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ،وَإِلاَّوَقَدْكُتِبَتْ شَقِيَّةًأَوْ سَعِيدَةً)،قال:فقال رَجَلٌ: يارَسُولَ اللّٰهِ،أَفَلَانَمْكُثُ عَلَ كِتَابِنَاوَنَدَعُ الْعَمَلَ؟فقال:(مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ،فَسَيَصِيرُإِلَى عَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ)فقال:(اعْمَلُوافَكُلٌّ مُيَسَّرٌ،أَمَّاأَهْلُ السَّعَادَةِ،فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ،وَأَمَّاأهْلُ الشَّقَاوَةِفَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ

“Tidaklah ada seorangpun dari kalian, tidaklah ada seorang jiwapun yang hidup, melainkan telah Allah tuliskan tempat huniannya di surg‍a atau neraka, dan juga telah dituliskan nasibnya, apakah ia sebagai orang yang sengsara atau bahagia.” Lalu ada seorang sahabat yang bertanya: Ya Rasulullah, Tidakkah lebih baik berserah diri kepada suratan takdirnya dan tidak usah susah payah beramal? Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab: “Barang siapa yang ditakdirkan untuk menjadi orang yang bahagia, maka ia akan beramal dengan amalan orang-orang yang bahagia, dan Barang siapa yang ditakdirkan untuk menjadi orang yang sengsara, maka ia akan beramal dengan amalan orang-orang yang sengsara.” Lalu Beliau melanjutkan sabdanya: “Beramallah, karena setiap manusia akan dimudahkan; adapun orang-orang yang (telah ditakdirkan menjadi orang bahagia) maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan orang-orang bahagia. Sebaliknya, orang-orang yang (telah ditakdirkan menjadi orang sengsara) maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan orang-orang sengsara.” Lalu beliau membaca ayat:

فَأَمَّامن أعْطَى وَاتَّقَ  ۝‎

وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى  ۝‎

فَسَنُيَسِزُ هُ لِلْيُسْرَى ۝

‎وَأَمَّامن نَجِلَ وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang yang bakhil lagi merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik (surga), maka kelak Kami akan meyiapkan baginya jalan yang sukar.” (a)

(a) HR. Bukhari & muslim

Hadits yang diriwayatkan oleh Khalifah Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu ini menjadi salah satu dalil kuat bagi penetapan sifat Ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mencakup segala sesuatu. [10]

Yang demikian itu, dikarenakan para ulama’ telah menjelaskan bahwa setiap takdir mencakup empat tingkatan:

1. Ilmu tentang hal tersebut, yaitu Allah telah mengetahui segala hal terkait dengan sesuatu tersebut sebelum ditadirkan (diciptakan). Diantara dalil tingkatan ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 

ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ سَبْعَ سَمَٰوَٰتٍ وَمِنَ ٱلْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ ٱلْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًۢا
[1]

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah terus menerus berlaku diantara alam langit dan alam bumi, agar kamu mengetahui bahwasannya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS.At Thalaq: 12)

 

2. Penulisan, yaitu Allah telah menuliskan penciptaan sesuatu tersebut pada lembaran-lembaran takdir, yang telah dituliskan oleh Al Qalam 50.000 tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Diantara dalil tingkatan ini adalah hadits berikut:

 

عَنْ عَبْدِاللّٰهِ بْنِ عَمْرِوبْنِ الْعَاصِقَالَسَمِعْتُ رَسُولَ اللّٰهِ يَقُولُ: (كَتَبَ اللّٰهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أنْ نَيْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَأَلْفَ سَنَةٍ).رواه مسلم

“Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Amr Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Allah telah menuliskan takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.” (b)

(b) HR. Muslim

Dan pada hadits lain Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

 

(أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللّٰهُ تَبَار َكَ وَتَعَالَى اْقَلَمَ،فقَلَ لَهُ: اكْتُبْ.قَالَ:رَبِّي وَمَاأكْتُبُ؟قَالَ:اكْتُبْمَقَادِيرَكُلِّ شِيءٍحتَّى تَقُومَ السَّعَقُ)

“Pertama kali Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Al Qalam, Allah berfirman kepadanya: “Tulislah”, Maka Al Qalampun bertanya: “Wahai, Tuhanku, apa yang harus aku tulis?” Allah menjawab: “Tulislah takdir segala sesuatu hingga bangkitnya hari kiamat.”(c)

(c) HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Thabrani dan dinyatakan sebagai hadits shahih oleh Al Bani.

3. Kehendak, yaitu Allah menghendaki penciptaan sesuatu tersebut. Diantara dalil tingkatan ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 

إِنَّمَآ أَمْرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيْـًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ
[2]

“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “jadilah”, maka terjadilah ia.” (Yasin 82)

 

4. Penciptaan, yaitu pewujudan sesuatu yang telah Allah ketahui, lalu dituliskan selanjutnya dikehendaki dan pada akhirnya diwujudkan dalam alam nyata, dalam bentuk suatu benda atau kejadian atau perbuatan. (d)

(d) Ushulul Iman Fi Dhaui Al Kitab wa As Sunnah, Al Qaulul Mufid ‘Ala Kiyab At Tauhid

Diantara dalil kedua tingkatan ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

بَدِيعُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُۥ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُن لَّهُۥ صَٰحِبَةٌ ۖ وَخَلَقَ كُلَّ شَىْءٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ
[3]
ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ خَٰلِقُ كُلِّ شَىْءٍ فَٱعْبُدُوهُ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ وَكِيلٌ
[4]

“Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai istri, Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu, tiada Tuhan (yang berhak diibadahi) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.” (QS Al An’am: 101-102)

Tidak mengherankan bila para ulama’, diantaranya Imam As Syafi’i, Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal berkata:

 

نَاظِرُوْاالْقَدَرِيَّةَبِالْعِلْمِ،فَإِنْ أَقَرُّوْابِهِ خَصَمُوْا،وَإِنْ خَحَدُوْهُ كَفَرُوْا.

“Debatlah orang-orang yang mengingkari taqdir dengan masalah penetapan Ilmu Allah, bila mereka mengakuinya, maka mereka telah terkalahkan, dan bila mereka mengingkarinya, berarti mereka telah kufur.” (e) Yang demikian itu, dikarenakan pengakuan bahwa: Allah Maha Mengetahui segala sesuatu sebelum diciptakannya langit dan bumi, dan sebelum terjadinya segala sesuatu, merupakan tingkat paling dasar dari keimanan kepada takdir Allah.

(e) Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 23/349, Jami’ul ‘Ulum Wa Al Hikam oleh Ibnu Rajab 4/16, Syarah Al Aqidah At Thahawiyyah oleh Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafy 1/354.

Imam Utsman bin Sa’id Ad Darimy As Syafi’i berkata: “Barang siapa benar-benar beriman dengan Al Qur’an dan mempercayai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam, niscaya ia merasa puas walau hanya dengan membaca sebagian saja dari dalil-dalil yang telah saya sebutkan. Dalil-dalil itu dengan nyata menetapkan bahwa Allah telah mengetahui segala mahkluk sebelum diciptakan beserta seluruh amalannya sebelum mereka mengamalkannya. Demikian pula halnya setiap orang yang mengumpulkan seluruh ayat-ayat, hadits-hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan keterangan-keterangan para sahabat dan tabi’in yang semuanya dengan tegas menetapkan ilmu Allah yang mencakup segala sesuatu. Dan sebenarnya untuk mengetahui hal tersebut tidak perlu mendatangkan dalil sebanyak yang saya sebutkan. Saya menyebutkan dalil-dalil sebanyak itu, agar menjadi bahan renungan bagi orang-orang yang berakal sehat dan berpemahaman baik. Dengan demikian, mereka dapat mengetahui sejauh mana kesesatan orang-orang yang enggan untuk menetapkan ilmu Allah yang mencakup segala sesuatu, dan bahkan menafikannya. Mereka menganggap Allah dalam hal ilmu pengetahuan layaknya manusia biasa, tanpa ada perbedaan sedikitpun. Mereka berpendapat: Menurut mereka: sebagaimana manusia tidak dapat mengetahui sesuatu sebelum terwujud, demikian pula halnya dengan Allah, tidak mengetahui sebelum terwujud. Bila demikian adanya, apa perbedaan antara Dzat Yang Maha Mengetahui hal yang ghaib (sebagaimana ditegaskan dalam surat Al Maidah ayat 109-pen), Yang mengetahui segala hal yang rahasia dan yang lebih tersembunyi (sebagaimana disebutkan dalam surat Thaha ayat 8-pen) dari manusia yang tidak memiliki ilmu selain yang diajarkan Allah kepadanya?(f)

(f) Ar Raddu ‘Ala Al Jahmiyyah oleh Imam Utsman bin Sa’id Ad Darimi As Syafi’i 139.

Diantara bentuk implementasi keimanan kita kepada kesempurnaan ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kita mengimani bahwa segala ilmu yang telah dikuasai dan yang akan dikuasai oleh manusia adalah karunia dari Allah. Allah-lah yang mengajarkan atau mengilhamkan ilmu tersebut kepada manusia. Oleh karena itu dahulu para Malaikat mengikrarkan kepada Allah ucapan berikut:

 

سُبْحَٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ
[5]

“Maha Suci Engkau, tiada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Baqarah: 32)

Bila kita mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan sekarang ini, niscaya kita merasa takjub dengannya. Begitu luas dan begitu hebat hasilnya, akan tetapi semua itu terlalu sedikit bila dibanding dengan ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
[6]

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al Isra: 85)

Imam As Syaukany Az Zaidy berkata: “Sesungguhnya kalian yang telah diajarkan oleh Allah kepada kalian, hanyalah sedikit bila dibanding dengan ilmu Allah Sang Pencipta Yang Maha Suci. Walaupun seseorang telah dikaruniai ilmu yang sangat luas, bahkan perbandingan ilmu seluruh nabi-nabi ‘Alaihimu sallam, dengan ilmu Allah, bagaikan seekor burung yang dengan paruhnya mengambil air lautan.”(g)

(g) Tafsir Fathul Qadir oleh Imam As Saukany Az Zaidy 3/363.

Tidak mengherankan bila setiap kali kita berhasil menguasai ilmu baru, ilmu tersebut menjadi bukti baru akan kebodohan kita. Inilah yang mendasari Imam Syafi’i untuk berkata:

 

وَإِذَامَاازْدَدْتُ عِلْمًا…زَادَنِى عِلْمًابِجَهْلِى

“Dan acapkali aku bertambah ilmu, maka tambahan ilmu itu semakin membuktikan akan kebodohanku”

Dan diantara bukti kesempurnaan ilmu Allah adalah pengetahuan tentang lima hal ghaib yang merupakan kunci-kunci ilmu ghaib.

 

وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِى ظُلُمَٰتِ ٱلْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى
كِتَٰبٍ مُّبِينٍ
[7]

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya selain Dia sendiri. Dan Dia mengetahui apa yang di daratan, dan lautan, tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan telah tertulis dalam kitab yang nyata (Al lauh Al Mahfuzh).” (QS. An An’am: 59)

 

Imam Bukhary Rahimahullah telah meriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda:

 

إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلْمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۢ
[8]

“Kunci-kunci ilmu ghaib itu ada lima: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah ilmu tentang Hari Kiamat, dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada orang yang mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya esok hari. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)

Dan pada ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ٱلْغَيْبَ إِلَّا ٱللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
[9]

“Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib, selain Allah, dan mereka tidak mengetahui bahwa mereka akan dibangkitkan.” (QS. An-Naml: 65)

 

 

Disalin dari:

Badri, Muhammad Arifin. 2013. Air Mata Buaya Penganut Syi’ah. (Sedikit pengeditan agar pembaca tidak salah paham, lihat referensi bila ingin melihat teks asli.) [10]

Cikarang: Rumah Ilmu.

[1] https://tafsirweb.com/10992-surat-at-talaq-ayat-12.html

[2] https://tafsirweb.com/8038-surat-yasin-ayat-82.html

[3] https://tafsirweb.com/2225-surat-al-anam-ayat-101.html

[4] https://tafsirweb.com/2226-surat-al-anam-ayat-102.html

[5] https://tafsirweb.com/294-surat-al-baqarah-ayat-32.html

[6] https://tafsirweb.com/4689-surat-al-isra-ayat-85.html

[7] https://tafsirweb.com/2183-surat-al-anam-ayat-59.html

[8] https://tafsirweb.com/7518-surat-luqman-ayat-34.html

[9] https://tafsirweb.com/6929-surat-an-naml-ayat-65.html

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *