Amalan Sunnah di Bulan Muharram

Dipertemukan kembali dengan bulan Muharram adalah sebuah nikmat besar dari Allah subhanahu wa ta’ala yang sebaiknya tidak disia-siakan begitu saja! Sebab bisa jadi untuk Muharram tahun depan, kita sudah tidak hidup di dunia ini lagi.

Adapun yang menjadi sebab kenapa hal tersebut dikatakan sebagai nikmat yang besar, karena bulan Muharram adalah bulan yang bisa dimanfaatkan untuk semakin giat dalam mempersiapkan bekal akhirat, melalui ibadah wajib serta ibadah sunnah yang disyari’atkan.

Dalam kesempatan ini, akan kami paparkan tentang amalan sunnah di bulan Muharram. Semoga dengan informasi ini, kita yang sebentar lagi akan bertemu dengan bulan Muharram, bisa mempersiapkan dan merencanakannya.

 

Amalan Sunnah di Bulan Muharram #1 : Puasa

Selain lebih giat mengamalkan puasa yang sudah biasa diamalkan, seperti puasa senin-kamis, puasa ayyamul baidh, dan puasa daud. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalaam pun menganjurkan untuk mengamalkan puasa hari ‘Asyura, sebagaimana keterangan dalam hadits dibawah ini :

أَنَّ عَائِشَةَ رَضِي الهُِ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ الهِن صَلَّى الهَُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada hari asyura di masa jahiliyyah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melakukannya pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau sampai di Madinah beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.

[Hadits Shahih Riwayat Bukhari 3/454, 4/102-244, 7/147, 8/177,178, Ahmad 6/29, 30, 50, 162, Muslim 2/792, Tirmidzi 753, Abu Daud 2442, Ibnu Majah 1733, Nasa’i dalam Al-Kubra 2/319,320, Al-Humaidi 200, Al-Baihaqi 4/288, Abdurrazaq 4/289, Ad-Darimy 1770, Ath-Thohawi 2/74 dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya 5/253]

***

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى الهُم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى الهُل بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ نَحْنُ نَصُوْمُهُ تَعْظِيْمًا لَهُ

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya :”Apa ini?” Mereka menjawab :”Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka beliau Rasulullah menjawab :”Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.”

[Hadits Shahih Riwayat Bukhari 4/244, 6/429, 7/274, Muslim 2/795, Abu Daud 2444, Nasa’i dalam Al-Kubra 2/318, 319, Ahmad 1/291, 310, Abdurrazaq 4/288, Ibnu Majah 1734, Baihaqi 4/286, Al-Humaidi 515, Ath-Thoyalisi 928]

Hadist diatas menjadi alasan kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam menganjurkan umatnya untuk berpuasa di hari ke-10 Muharram. Akan tetapi untuk menghindari Tasyabuh (menyerupai) kebiasaan orang Yahudi, maka Rasululllah menganjurkan kita untuk menambah puasa di tanggal 9 Muharram.

Tapi kalaupun Antum hanya mau mengamalkan puasa di tanggal 10 Muharram saja juga diperbolehkan, hanya lebih baik apabila kita iringi puasa tanggal 10 tersebut dengan tanggal 9 untuk menyelisihi kaum Yahudi. Sebagaimana keterangan hadits :

صَامَ رَسُولُ الهِع صَلَّى الهُت عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ الهِس إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ الهَِ صَلَّى الهُم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ الهَِ صَلَّى الهَُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan berpuasa. Para shahabat berkata:”Ya Rasulullah, sesungguhnya hari itu diagungkan oleh Yahudi.” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di tahun depan insya Allah kita akan berpuasa pada tanggal 9.”, tetapi sebelum datang tahun depan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat.

[Hadits Shahih Riwayat Muslim 2/796, Abu Daud 2445, Thabary dalam Tahdzibul Atsar 1/24, Baihaqi dalam Al-Kubra 4/287 dan As-Shugra 2/119 serta Syu’abul Iman 3506 dan Thabrabi dalam Al-Kabir 10/391]

 

Amalan Sunnah di Bulan Muharram #2 : Memperbanyak Amal Shalih

Di bulan Muharram kita dianjurkan untuk memperbanyak amalan shalih karena pahala yang bisa didapat dari amalan tersebut lebih besar dibandingkan bulan lainnya.

Untuk bentuk amalan shalih yang bisa dilakukan ada banyak sekali yang sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Dengan melakukan amalan shalih itu pun, insyaa Allah sudah cukup untuk menjadikan kita mendapatkan berbagai kebaikan dan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.

Tidak perlu ditambah dengan amalan baru yang tidak disyari’atkan sama sekali! Hal ini penting untuk diingatkan, karena ada sebagian umat Islam yang melakukan amalan khusus di bulan Muharram yang sama sekali tidak ditemukan keterangan pen-syari’atannya, baik dalam Al-Qur’an, Hadits, maupun contoh dari pada sahabat.

Semua alaman baru yang tidak disyari’atkan tersebut sebaiknya dihindari dan dijauhi, karena selain tertolak, amalan tersebut pun bisa menjerumuskan orang yang mengamalkannya sebagai pelaku kebid’ahan.

 

Amalan Sunnah di Bulan Muharram #3 : Bertaubat

Bertaubat bukan sebuah amalan khusus yang hanya bisa diamalkan di bulan Muharram saja, tetapi amalan yang sebaikya dilakukan sesegera mungkin selama kita masih diberikan kesempatan hidup. Ketika masuk bulan Muharram, bersegeralah kepada ampunan Allah subhanahu wa ta’ala dengan bertaubat, karena kita tidak tahu apakah akan bertemu dengan akhir bulan ini atau tidak?

Bertaubat adalah kembali kepada Allah dengan cara menjauhi berbagai perkara yang dibenci oleh Allah, dan meningkatkan ketaatan kepada perkara yang Allah senangi. Juga dengan mengingat dosa yang telah lalu dan menyesalinya, kemudian bertekad dalam hati untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut.

Sebagaimana amal kebaikan yang pahalanya ditingkatkan di bulan ini, maka demikian juga balasan untuk amal buruk. Sedangkan manusia adalah tempatnya salah dan lupa, maka dengan memperbanyak taubat di bulan Muharram, mudah-mudahan bisa menghapuskan catatan keburukan yang dilakukan baik dengan sengaja ataupun tidak disengaja.

***

Itulah amalan sunnah di bulan Muharram. Semoga kita semua menjadi hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang mampu bersyukur atas nikmat umur dan nikmat sehat yang Allah karuniakan di bulan ini, untuk sama-sama mengamalkan amalan sunnah di atas.

Barokallahu fiikum…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *