Apa Sajakah Amalan Bulan Muharram Yang Sesuai Sunnah?

Alhamdulillah bini’matihi tathimusholihaat….

Sebentar lagi kita akan bertemu dengan bulan Muharram….

Sebagai umat Islam yang bersyukur atas nikmat usia yang Alhamdulillah masih diberikan hingga saat ini, maka sepatutnya kita perlu mempersiapkan diri agar bulan Muharram 1439 H yang sebentar lagi akan mendatangi kita, bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin dalam rangka melakukan ketaatan yang akan semakin mendekatkan diri kita kepada ridho dan karunia Allah subhanahu wa ta’ala.

Tentu saja ketaatan disini berupa amalan wajib yang telah diperintahkan. Dan tak lupa mari kita tambahkan dengan ketaatan lain berupa amalan sunnah yang disyari’atkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalaam ketika bulan Muharram.

Apa sajakah amalan bulan Muharram yang sesuai sunnah? Penjelasannya lebih lanjut bisa dibaca dalam ARTIKEL INI.

 

Amalan Sunnah Puasa di Bulan Muharram

Keutamaan puasa di bulan Muharaam adalah sebuah salah satu peluang baik yang sepatutnya kita manfaatkan. Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah (bulan) Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib (lima waktu) adalah shalat malam.“[Hadits Shahih Riwayat Muslim, no. : 1163].

Untuk mendapatkan keutamaan puasa bulan Muharram ini, bisa dengan menjalankan puasa sunnah sebagaimana yang biasa diamalkan, misalnya puasa senin-kamis, puasa ayyamul bidh, puasa daud, atau puasa sunnah lain yang disyari’atkan.

Dan puasa sunnah yang paling khusus untuk mendapatkan keutamaan puasa bulan Muharram, adalah berpuasa di tanggal 10 Muharram (puasa aasyuura), boleh ditambah dengan puasa tanggal 9 atau tanggal 11. Atau boleh juga dilakukan selama 3 hari mulai dari tanggal 9, 10, dan 11. Hal ini dimaksudkan untuk menyelisihi kaum Yahudi yang hanya berpuasa di tanggal 10 Muharram.

Adapun keutamaan puasa bulan Muharram tanggal 10 ini, adalah bisa menggugurkan dosa-dosa kecil di tahun lalu. Sebagaimana keterangan ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang keutamaan puasa bulan Muharram (puasa aasyuura), beliau bersabda,

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Puasa ini menggugurkan (dosa-dosa) di tahun yang lalu” [Hadits Shahih Riwayat Muslim, no. 1162]

Itu adalah salah satu contoh amalan bulan Muharram yang sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalaam.

 

Anggapan Keliru Bahwa Bulan Muharram Bulan Anak Yatim

Selain puasa, memang kita dianjurkan untuk melakukan contoh amalan bulan Muharram lain yang disunnahkan, seperti memperbanyak seperti bersedekah, berinfaq, dan lain sebagainya. Akan tetapi di masyarakat muncul sebuah anggapan keliru yang menganggap bahwa bulan Muharram bulan anak Yatim!

Dengan anggapan keliru ini, banyak diantara umat Islam yang mengkhususkan bulan Muharram untuk menyantuni anak yatim. Padahal kewajiban ini disyari’atkan tanpa harus mengkhususkan waktu tertentu!

Dari Ummu Said  binti  Murrah Al Fihri, dari ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

أَنَا وَكاَفِلُ الْيَتِيْمِ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ، أَوْ كَهَذِهِ مِنْ هَذِهِ -شَكَّ سُفْيَانُ فِي الْوُسْطَى أَوِ الَّتِيْ يَلِيْ الإِبْهَامُ

Kedudukanku dan orang yang mengasuh anak yatim di surga seperti kedua jari ini atau bagaikan ini dan ini.” [Salah seorang perawi Sufyan ragu apakah nabi merapatkan jari tengah dengan jari telunjuk atau jari telunjuk dengan ibu jari]. (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 133, shahih) Lihat As Silsilah Ash Shahihah (800)

Hadits tersebut tidak sedikitpun mensyari’atkan untuk mengkhususkan bulan Muharram sebagai bulan anak yatim. Karena mengasuh, menyantuni, melindungi, dan membahagiakan anak yatim adalah hal yang harus dilakukan kapan pun kita mampu untuk melakukannya.

Adapun kekeliruan anggapan yang terjadi di masyarakat tentang bulan Muharram bulan anak yatim terjadi karena munculnya suatu dalil berupa keterangan hadits bermasalah yang berbunyi :

من مسح يده على رأس يتيم يوم عاشوراء رفع الله تعالى بكل شعرة درجة

Siapa yg mengusapkan tangannya pada kepala anak yatim, di hari Asyuro’ (tgl 10 Muharram), maka Allah akan mengangkat derajatnya, dengan setiap helai rambut yg diusap satu derajat“.

Di dalam jalur sanad hadis ini ada perawi bernama Habib bin Abi Habib. Para ulama hadits sepakat menyatakan bahwa perawi ini ditinggalkan (matruk). Sehingga menjadikan keterangan hadits ini sebagai dalil untuk mengkhususkan bulan Muharram untuk menyantuni anak yatim sangatlah tidak tepat.

 

Bid’ah di Bulan Muharram Yang Sebaiknya Dihindari

Apakah ada contoh amalan bulan Muharram yang dilakukan di masyarakat, padahal sebenarnya amalan tersebut termasuk kebid’ahan karena tidak disyari’atkan?

Jawabannya “ADA“!

Informasi tambahan ini penting untuk disampaikan juga, agar umat Islam yang selama ini selalu mengamalkan amalan bid’ah di bulan Muharram ini bisa memahami keterangan syar’i tentangnya, kemudian meninggalkan amalan bid’ah di bulan Muharram tersebut.

Adapun amalan bid’ah di bulan Muharram yang dimaksud adalah :

  • Melakukan ritual tolak bala
  • Melakukan shalat sunnah aasyuura
  • Menyantuni anak yatim khusus di bulan Muharram
  • Mengusapkan tangan ke kepala anak yatim

Tidak ada keterangan yang mensyari’atkan untuk melakukan amalan di atas khusus pada bulan Muharram. Adapun hadits tentang mengusapkan tangan ke kepala anak yatim, ini tidak bisa dijadikan dalil dengan alasan yang dikemukakan di atas.

***

Demikian informasi tentang amalan bulan Muharram yang sesuai sunnah. Semoga dengan ikut serta mengamalkan Sunnah, kita bisa menghapuskan Bid’ah.

Semoga kita semua sampai kepada bulan Muharram, sehingga bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk melakukan ketaatan yang akan menjadi sebab turunnya rahmat dan ridho Allah subhanahu wa ta’ala.

Barokallahu fiikum…

Incoming search terms:

  • amalan bulan muharram sesuai sunnah

One thought on “Apa Sajakah Amalan Bulan Muharram Yang Sesuai Sunnah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *