Keshalihan Orang Tua, Modal Utama

Seorang anak tumbuh sesuai dengan tarbiyah dan pendidikan yang diberikan kedua orang tua. Sifat-sifat orang tua menurun kepada anak.

Kita punya keinginan sama. Harapan kita pun serupa. Kita semua ingin agar anak kita menjadi anak shalih. Kita juga berharap supaya mereka senantiasa berbakti kepada orang tua.

Tetapi sadarkah kita bahwa keshalihan dan ketakwaan diri kita sendiri-sebagai orang tua-adalah modal utama untuk meraih semua keberhasilan itu?

Jadi lucu sekali apabila kita mengharapkan anak shalih dan bertakwa, sementara kita menjalani kehidupan dalam kubangan maksiat serta kelalaian.

Keshalihan jiwa beserta perilaku orang tua mempunyai andil besar dalam membentuk keshalihan anak. Bahkan akan mendatangkan kebaikan bagi anak di dunia dan di akhirat.

Kebaikan orang tua bisa menjadi berkah tersendiri bagi si anak, misalnya ia mendapatkan perlindungan dari orang lain atau keluasan rezeki dan kesehatan dari Allah.

Tentu kita masih ingat kisah keshalihan seorang anak di dalam surah Al-Kahfi, yang diungkapkan dalam perjalanan spiritual Nabi Musa dan Nabi Khidir. Berikut ringkasannya, seperti yang dinukil langsung dari ayat-ayat al-Qur-an.

Alkisah, Nabi Musa bersama Nabi Khidr ‘alaihissallam melewati sebuah perkampungan. Keduanya meminta penduduk supaya menyambut dan menjamu mereka, namun ditolak. Kemudian keduanya melihat bangunan yang hampir roboh. Tiba-tiba Khidr memperbaiki dinding rumah itu hingga tegak kembali. Musa berkomentar:

لَوْ شِئْتَ لَتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا

[1]

Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu.”(QS. Al-Kahfi[18]:77)

Adapun jawaban Nabi Khidr atas pertanyaan itu:

وَأَمَّا ٱلْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَٰمَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِى ٱلْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُۥ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبْلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ ۚ

[2]

Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang shalih. Maka Rabbmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Rabbmu….
(QS. Al-Kahfi [18]:82)

Demikianlah. Keshalihan seorang hamba mendatangkan rahmat Allah bagi keturunannya.

Karena itulah Allah memerintahkan segenap orang tua yang mengkhawatirkan masa depan anak-anaknya supaya bertakwa, beramal shalih, beramal makruf nahi mungkar, dan mengerjakan berbagai amal ketaatan agar Allah menjaga anak cucunya dengan keshalihannya tersebut.

Dia ‘azza wa jalla berfirman :

وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا

[3]

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh karena itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”
(QS. An-Nisâ’ [4]:9)

Itulah sebabnya para Salaf bersungguh-sungguh dalam beribadah demi kebaikan anak cucu.

Sa’id bin Musayyib rahimahullah menyatakan: “Tatkala dalam shalat aku mengingat anakku, maka aku pun menambah rakaat shalatku.”

Sekali lagi, keshalihan dan ketakwaan orang tua adalah modal utama dalam mendidik anak! Merekalah sosok yang senantiasa mentaati Allah dan memberi pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka.

Orang tua yang shalih, di samping mereka menyuguhkan makanan dan minuman yang baik, juga menyuguhkan pengajaran-pengajaran yang baik.

Sebagai orang tua, ayah dan ibu adalah guru, pendidik, dan sosok teladan pertama bagi anak.

Inilah salah satu hikmah mengapa Allah dan Rasul-Nya menekankan aspek agama tatkala seorang muslim memilih jodoh, karena wanita shalihah adalah calon pendidik bagi anak-anak yang terlahir dari pernikahan mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَا تَنكِحُوا۟ ٱلْمُشْرِكَٰتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنكِحُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا۟ ۚ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُو۟لَٰٓئِكَ يَدْعُونَ إِلَى ٱلنَّارِ ۖ وَٱللَّهُ يَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱلْجَنَّةِ وَٱلْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِۦ ۖ وَيُبَيِّنُ ءَايَٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

[4]

“Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang(laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke Neraka, sedangkan Allah mengajak ke Surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka mengambil pelajaran.”
(QS. Al-Baqarah [2]:221)

Alasannya jelas, Seorang anak tumbuh sesuai dengan tarbiyah dan pendidikan yang diberikan kedua orang tua. Sifat-sifat orang tua menurun kepada anak. Ibarat pepatah “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”.

Fakta membuktikan, betapa banyak ketakwaan terpatri pada diri seorang anak disebabkan mengikuti ketakwaan kedua orang tua ataupun salah seorang dari mereka.

Maka dalam mencetak generasi Rabbani ini, yang shalih, sangat dibutuhkan kerjasama yang apik antar ayah dan ibu.

Ayah berperan sebagai pemimpin dalam rumah tangganya. Dialah panglima yang harus menjadi teladan bagi istri dan anaknya. Sementara ibu berperan sebagai petugas lapangan yang secara langsung menjadi “madrasah” pertama bagi anak.

Dengan demikian, peran ibu dalam pendidikan anak bisa lebih dominan ketimbang peran ayah. Hal ini disebabkan ibu lebih banyak tinggal di rumah hingga intensitas pertemuan dengan anak tentu lebih sering.Begitu juga tabiat ibu yang lembut dan penuh kasih membuatnya lebih dekat di hati anak daripada tabiat ayah yang cenderung kaku dan tegas. Seorang wanita yang shalihah tidak hanya menyuapkan makanan ke mulut anaknya, tetapi juga memberinya “santapan iman”.

Di samping memberikan susu, seorang ibu memberikan anaknya “air kehidupan”, prinsip-prinsip terbaik dalam hidup. Di samping memberi belaian, ia memperdengarkan untaian dzikir kepada Allah serta shalawat kepada Rasulullah yang akan menanamkan ketakwaan dalam dada, serta menguatkan cinta mereka kepada Islam hingga akhir hayat.

 

Disalin dari:

Mencetak Generasi Rabbani Mendidik Buah Hati Menggapai Ridha Ilahi, Abu Ihsan Al-Atsari & Ummu Ihsan, Tim Pustaka Imam asy-Syafi’i, 2019 M

[1]https://tafsirweb.com/4903-quran-surat-al-kahfi-ayat-77.html

[2]https://tafsirweb.com/469-quran-surat-al-baqarah-ayat-82.html

[3]https://tafsirweb.com/1541-quran-surat-an-nisa-ayat-9.html

[4]https://tafsirweb.com/855-quran-surat-al-baqarah- ayat-221.html

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *