Ketahuilah, Ini Efek Maksiat di Dunia dan di Akhirat (Bagian 2)

Kedua: Dampak Maksiat Terhadap Masyarakat

Berapa banyak umat-umat terdahulu dan kaum-kaum yang dahulunya jaya menjadi hancur karena dosa? Apakah Anda melihat jejak mereka?

Allah ta’ala berfirman,

 وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُونِ مِنْ بَعْدِ نُوحٍ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا

“Dan berapa banyak kaum setelah Nuh yang telah kami binasakan. Dan cukuplah Rabbmu Yang Maha mengetahui, Maha melihat dosa hamba-hambaNya.” (Al-Isra’: 17)

Di mana kaum Nuh? Di mana kaum Tsamud, kaum ‘Ad, kaum Luth, dan kaum-kaum terdahulu lainnya?

Allah ta’ala berfirman,

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Maka masing-masing mereka Kami azab lantaran dosa-dosanya. Di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan. Allah sama sekali tidak hendak menzhalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzhalimi diri mereka ka sendiri.” (Al-Ankabut: 40)

 

Di antara dampak dan efek negatif dosa dan maksiat terhadap masyarakat:

 

1. Menghilangkan nikmat dengan beragam jenisnya dan mendatangkan siksa, cobaan, dan ujian sebagai gantinya.

Diantara nikmat-nikmat tersebut adalah nikmat Iman. Selama sebuah masyarakat senantiasa melakukan dosa dan maksiat maka akhirnya Iman akan lemah, hati berubah haluan, lalu tingkah laku pun berubah dan masyarakat dan masyarakat tersebut bakal menyusul nasib kafilah orang-orang yang fajor sebelumnya.

Di antara nikmat yang dapat hilang disebabkan maksiat, atau (paling tidak) berkurang, adalah nikmat harta dan rizki.

Allah ta’ala berfirman,

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

“Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rizki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap penjuru, tetapi (penduduk)nya kufur dengan nikmat-nikmat Allah, maka Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat.” (An-Nahl: 112)

 

Alangkah indah ucapat seorang penyair,

Jika kamu berada dalam sebuah nikmat, maka peliharalah, karena maksiat dapat menghilangkan nikmat
Lindungi ia dengan mentaati Rabb sekalian hamba, karena Rabb sekalian hamba amat cepat pembalasaNya

 

Di antara nikmat yang dapat sirna dengan dosa, adalah nikmat keamanan negeri.

Allah ta’ala berfirman,

 وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

“Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rizki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap penjuru, tetapi (penduduk)nya kufur dengan nikmat-nikmat Allah, maka Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat.” (An-Nahl: 112)

Apa yang terjadi di hari-hari terakhir ini, berupa peperangan besar yang menggusur rasa aman dan menjadikan manusia hidup dalam ketakutan, kesemuanya itu adalah disebabkan maksiat dan dosa.

Juga, di antara nikmat yang bisa sirna disebabkan dosa, adalah nikmat kesehatan fisik. Di mana, wabah sampar dan penyakit-penyakit lainnya adalah hukuman dan adzab dari Allah disebabkan karena dosa yang di perbuat manusia.

Dalam ash-Shahihain, dari Usamah, Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ ه‍ٰذَا الْوَ جَعَ أَوِ السَّقَمَ رِجْزٌ عَذَّبَ اللّٰهُ بِهِ بَعْضَ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ، وَقَدْ بَقِيَ بَعْدُ فِي الْأَرْضِ فَيَذْه‍َبُ الْمَرَّةَ وَيَأْتِي الْأُخْرَى …

“Sesungguhnya penyakit atau sakit ini adalah azan yang dengannya Allah telah mengazab sebagian umat-umat sebelum kalian, dan masih tetap ada setelahnya di bumi, sesekali pergi dan sesekali datang…” HR. al-Bukhari, Kitab al-Anbiya‘, no. 60; dan Muslim, no. 2218.

Dalam hadits Ibnu Umar secara marfu‘,

لَمْ تَظْه‍َرِ الْفَا حَشَةُ فِيْ قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلَنُوْا بِمَا إِلَّا فَشَا فِيْه‍ِمُ الطَّاعُوْنُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِيْ لَمْ تَكُنْ مَضَتُ فِي أسْلَافِه‍ِمُ الَّذِيْنَ مُضَوْا…

“…sekali-kali, tidaklah zina mengemuka dalam sebuah kaum sehingga mereka melakukannya secara terang-terangan, melainkan pasti akan mewabah pada mereka tha’un (sampar) dan penyakit-penyakit yang belum pernah ada pada pendahulu-pendahulu mereka sebelumnya…” HR. Ibnu Majah dan al-Hakim. (Lihat as-Silsilah ash-Shahihah, 1/67 dan Shahih al-Jami‘).

 

2. Di antara pengaruh dosa terhadap masyarakat adalah, dicabutnya keberkahan harta, anak, rizki, dan badan.

Di antaranya, tidak dikabulkannya doa orang-orang Islam untuk diri mereka. Di antaranya, tidak diturunkannya hujan, kediktatoran penguasa terhadap mereka, dan pendudukan musuh atas mereka lalu mengambil sebagian yang ada pada tangan mereka (milik mereka).

Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhum, dia bertutur, Rasulullah ﷺ datang kepada kami seraya bersabda,

يَا مَعْشَرَ الْمُه‍َا جِرِيْنَ، خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيْتُمْ بِه‍ِنَّ وَأَعُوْذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِ كُوْه‍ُنَّ، لَمْ تَظْهَرِ الْفَا حِشَةُ فِيْ قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِه‍َا إِلَّا فَشَا فَيْه‍ِمُ الطَّاعُوْنُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِيْ لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِيْ أسْلاَفِه‍ِمُ الَّذِيْنَ مَضَوْا، وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيْزَانَ إِلَّا أُخِذُوْا بِالسِّنِيْنَ وَشِدَّةِ الْمَؤُوْنَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْه‍ِمْ، وَلَمْ يَمْتَعُوْا زَكَاةَ أَمْوَالِه‍ِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَمِنَ السَّمَاءِ، وَلَوْلَا الْبَه‍َاىِٔمُ لَمْ يُمْطَرُوْا، وَلَمْ يَنْقُضُوْا عَه‍دَ اللّٰهِ وَعَه‍ْدَ رَسُوْلِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللّٰهُ عَلَيْه‍ِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِه‍ِمْ فَأَخَذُوْابَعْضَ مَا فِي أيْدِيْه‍ِمْ، وَمَالَمْ تَحْكُمْ أَىِٔمَّتُه‍ُمْ بِكِتَابِ اللّٰهِ وَيَتَخَيَّرُوْا مِمَّا أَنْزَلَ اللّٰهُ إلَّا جَعَلَ اللّٰهُ بَأْيَه‍ُمْ بَيْنَه‍ُمْ.

“Wahai sekalian Muhajirin, ada lima hal jika kalian diuji dengannya, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak mengalaminya sekali-kali, tidaklah zina mengemuka dalam sebuah kaum hingga akhirnya mereka melakukannya secara terang-terangan, melainkan pasti akan mewabah di tengah-tengah mereka tha’un (sampar) dan penyakit-penyakit yang belum pernah ada pada pendahulu-pendahulu mereka sebelumnya; tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan, melainkan pasti mereka akan ditimpa paceklik, kesulitan pangan, dan kediktatoran penguasa terhadap mereka; tidaklah mereka menahan zakat harta-harta mereka, melainkan pasti hujan akan ditahan dari langit, kalau saja bukan karena binatang ternak, pasti mereka tidak diberikan hujan; tidaklah mereka melanggar perjanjian mereka kepada Allah dan perjanjian mereka kepada RasulNya, melaikan pasti Allah akan menguasakan musuh dari selain mereka atas mereka lalu memboyong sebagian harta benda milik mereka; tidaklah pemimpin-pemimpin mereka memutuskan hukum dengan Kitab Allah serta memilih-milih dari apa yang diturunkan Allah, melainkan pasti Allah akan menjadikan peperangan mereka diantara mereka.” HR. Ibnu Majah dan dan al-Hakim. (Lihat Ash-Shahihah, 1/67 dan Shahih al-Jami‘).

 

3. Bahkan, dampak-dampak dosa dan maksiat dalam masyarakat akan menjalar dari manusia kepada makhluk-makhluk lain.

Allah ta’ala berfirman,

 ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (Ar-Rum: 41)

Allah ta’ala berfirman,

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهْرِهَا مِنْدَآبَّةٍ

“Sekiranya Allah menghukum manusia dengan sebab apa yang mereka perbuat, niscaya Allah tidak akan menyisakan satu binatang pun di muka bumi.” (Fathir: 45).

Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Dan Allah telah melakukan itu pada zaman Nuh ‘alaihissalam.” (Al-Qurthubi, 7/2/361).

Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, “Demi Dzat yang jiwaku berada di TanganNya, sungguh, burung hubara akan mati kurus di sarangnya dengan sebab kezhaliman orang yang zhalim.” (Al-Qurthubi, 14/361).

Nabi ﷺ bersabda,

وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيْحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ.

“Dan hamba yang zhalim (jika mati), maka hamba-hamba, negeri, pohon, dan binatang akan merasa tenang darinya.” HR. Muslim, 2/656, no. 950.

Beliau ﷺ juga bersabda,

نَزَلَ الْحَجَرُ الْأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ.

“Hajar Aswad turun dari surga dalam keadaan lebih putih dari pada susu, lalu dosa-dosa Bani Adam membuatnya hitam.” HR. Ahmad dan at-Tirmidzi. (Lihat Shahih al-Jami‘, no. 695).

 

4. Di antara dampak maksiat terhadap masyarakat adalah banyaknya gempa, di mana kerusakan merata, musibah-musibah bermunculan, demikian juga angin badai, angin tornado, banjir bandang yang menghancurkan negeri, dan banjir-banjir yang menenggelamkan kampung dan kota-kota.

Allah ta’ala berfirman,

وَمَآ أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Musibah apa pun yang menimpa kalian, adalah karena ulah perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahan kalian).” (Asy-Syura: 30)

Masih berlanjut InsyaAllah, semoga Allah mudahkan penulis.

 

Referensi :
1. Ceramah Pilihan Menggugah Jiwa Menyentuh Kalbu (Judul Asli: Dzikrullah — Durus fi ar-Raqa’iq wa az-Zuhd. Penerjemah: Jamaluddin, Lc. Muraja’ah: Tim Pustaka DH), Ibrahim Abdullah Bin Saif Al-Mazru’i, Darul Haq Jakarta, 2013 M

Incoming search terms:

  • jangan ﻭﻻ ﻳﻐﺘﺮّ ﺑﺨﺪﻉ ﺍﻟﺘﺴﻮﻳﻒ، ﻓﺈﻥَّ ﻛﻞَّ ﺳﺎﻋﺔ ﺗَﻤﻀﻲ ﻣﻦ ﻋُﻤﺮﻩ

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *