Manisnya Iman dan Nikmatnya Taat (bagian 2)


Cinta Karena Allah

Dalam hadits yang lalu,

.وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَلَايُحِبُّهُ إِلَّالِلَّهِ…

“… hendaknya dia mencintai seseorang yang mana tidaklah dia mencintainya melainkan karena Allah.” Muttafaq ‘alaih.

Dan dalam Hadits yang lain,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ بَخِدَ طَعْمَ الْإِيْمَانِ فَلْيُحِبَّ الْمَرْءَلَايُحِبُّهُ إِلَّالِلّٰهِ عَزَّوَجَلَ.

Siapa yang ingin mendapatkan nikmat Iman, hendaklah ia mencintai seseorang, yang mana tidaklah dia mencintainya melainkan karena Allah ‘Azza wa Jalla.” HR. Ahmad, al-Hakim, dan al-Baghawi serta isnadnya dihasankan oleh Salim al-Hilali dalam kitab al-Hubb wa al-Bughdh fillah.

Seseorang terkadang mencintai orang lain lantaran hartanya, atau kecantikan, atau nasab, atau maslahat pribadi, atau harta dunia, dan lainnya. Tetapi, dia tidak akan merasakan manisnya Iman kecuali jika dia mencintainya karena Allah Ta’ala dan karena agamanya yang haq.

Faktor-faktor Penyebab Terpenting yang Menguatkan Cinta Karena Allah :
1. Mengabarkan orang yang Anda cintai bahwa Anda mencintainya karena Allah

Di dalam hadits,

.إِذَاأَحَبَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُعْلِمْهُ إِيَّاهُ

Apabila salah seorang dari kalian mencintai saudaranya, hendaklah dia mengutarakannya kepadanya.” HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi.

2. Menebar Salam

Dalam hadits,

َأَوَلَاأدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍإِذَافَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟أَفْشُواالسَّلَام بَيْنَكُمْ

Maukah kalian untuk aku tunjuki sesuatu, apabila kalian melakukannya niscaya kalian akan saling cinta? Tebarkan salam di antara kalian.” HR. Muslim (2/35).

3. Hadiah

Dalam hadits,

.تَهَادَوْاتَحَابُّوْا

Saling berilah hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” HR al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dengan isnad yang hasan.

4. Memelihara ziarah

Dalam hadits,

.زُرْغِبًّاتَزْدَدْحُبًّا

Berkunjunglah secara berkala, niscaya kamu akan bertambah cinta.”(Shahih al-Jami’, no. 3562).

5. Antusias terhadap ketaatan dan meninggalkan maksiat

Di dalam hadits,

.مَاتَوَادَّاثْنَانِ فَفُرِّقَ بَيْنَهُمَاإِلَّابِذَنْبٍ يُحْدِثُهُ أَحَدُهُمَا

Tidaklah dua orang saling mencintai lalu terpisah antara keduanya, melainkan pasti disebabkan dosa yang diperbuat salah satu dari mereka.”HR. Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir.

Apabila seseorang ingin menemukan manisnya Iman hendaklah dia mencintai seseorang, tidaklah dia mencintainya melainkan pasti (karena Allah).

Benci Kekufuran dan Pelakunya

Dalam hadits yang lalu,

.وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَفِيالْكُفْرِكَمَايَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّرِ

“… dan hendaklah dia benci kembali ke dalam kekufuran sebagaimana dia benci dilemparkan ke dalam api.” Muttafaq ‘alaih.

Seorang hamba Mukmin yang menemukan manisnya La Ilaha Illallah akan benci dan tidak mau untuk menukar kemanisan ini dengan pahitnya kekufuran, serta akan benci terhadap kekufuran karena dia tahu bahwa kekufuran adalah neraka. Siapakah yang ingin menghempaskan dirinya ke neraka?

Membenci kekufuran maknanya menunaikan hak Islam dalam hal berpegang teguh dengannya serta membuang prinsip-prinsip yang menyelisihi agama Allah dan berkontradiksi dengan hukum-hukumnya, seperti komunisme, sekularisme, dan lainnya.

Di antara sebab untuk merealisasikan manisnya Iman dan nikmatnya ibadah adalah:
1.Mengingat Allah (dzikrullah)

Allah Ta’ala berfirman,

أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
[1]

Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati akan tentram.” (Ar-Ra’: 28).

  • Dalam Shahih Muslim (7/21), Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَاخَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًايَذْكُرُوْنَاللّٰهَ فِيْهِ إِلَّاحَفَّتْهُمُ الْمَلَاىِٔكَةُوَتَغَشَّتْهُمُ الرَّحْمَةُوَتَنَزَّلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُوَذَكَرَهُمُاللّٰهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ.

Tidaklah sekelompok kaum duduk dalam sebuah majelis, mereka berdzikir kepada Allah di dalamnya, melainkan pasti mereka akan dikelilingi malaikat, diliputi rahmat, turun kepada mereka ketenangan, serta mereka disebut oleh Allah pada malaikat di sisiNya.”

Dzikir memiliki faidah yang banyak, di antaranya orang yang berdzikir akan merasakan manisnya Iman.

Dzikrullah mendatangkan rasa senang, bahagia, lapang, dan tentram, dan merupakan ibadah yang paling mudah, paling mulia, dan paling utama.

2. Di antara sebab-sebab tersebut, ridha terhadap Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul

Diriwayatkan oleh Muslim, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda,

ذَاقَ طَعْمَ الْإِيْمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللّٰهِ رَبًّاوَبِالْإِسلَامِدِيْنًاوَبِمُحَمَّدٍرَسُوْلًا

Akan merasakan nikmat Iman, orang yang ridha terhadap Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.

  • An-Nawawi rahimahullah berkata dalam Syarhnya, “Makna hadits tersebut, adalah dia tidak mencari (keridhaan kepada) selain Allah Ta’ala, tidak berjalan pada selain jalan Islam, dan tidak menapaki kecuali yang sesuai dengan syariat Muhammad. Tidak diragukan bahwa orang yang berkarakter demikian, maka manisnya Iman telah sampai kepada hatinya dan merasakan lezatnya.”
  • Ridha kepada Allah sebagai Rabb, mencakup ridha kepadaNya sebagai Dzat yang disembah, Penyelamat, Penolong, Pemberi rizki, dan sebagai Wali.
  • Ridha kepada Allah sebagai Rabb, berarti ridha dengan apa yang ditakdirkan Allah Subhanahu wa ta’ala atasnya, yang baik dan yang buruk.
  • Ridha kepada Allah sebagai Rabb, juga mencakup ridha dengan apa yang diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla.

Ada beberapa perkara yang dapat membantu menumbuhkan ridha kepada Allah sebagai Rabb, di antaranya -tawakal kepadaNya-, melaksanakan perintah-perintahNya, dan meninggalkan larangan-laranganNya.

  • Pengetahuan hamba dengan rahmat dan kasih Allah kepadanya,
وَكَانَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
[2]

Dan Allah Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”(Al-Ahzab:43).

  • Ridha kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Rasul mencakup sikap patuh dan pasrah secara utuh kepada beliau. Tidak berhakim kecuali kepada beliau. Apabila beliau memutuskan, atau memerintah,atau melarang, maka dia ridha sepenuhnya dan menerima seutuhnya. Allah Ta’ala berfirman,
يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا
[3]

Demi Tuhanmu. Mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa berat sedikit pun dalam diri mereka terhadap putusan yang kamu berikan, serta mereka menerima dengan sepenuhnya,” (An-Nisa`:65).

  • Ridha kepada Islam sebagai agama, mencakup ridha dengannya sebagai jalan hidup serta mencukupkan diri dengannya, dan bahwa Allah telah menyempurnakannya sehingga tidak boleh ditambah dan tidak pula dikurangi.
  • Ridha kepada Islam sebagai agama, termasuk diantaranya adalah melantunkan,رَضِيْتُ بِاللّٰهِرَبًّ وَبِمُحَمَّدٍرَسُوْلًاوَبِلْإِسْلَامِ دِيْنًا terutama ketika menjawab adzan.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ:أَشْهَدُأَنْ لَاإِلٰهَ إِلَّااللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَلَهُ،وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،رَضِيْتُ بِاللّٰهِرَبًّا،وَبِمُحَمَّدٍرَسُوْلًا،وَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًا،غُفِرَلَهُ ذَنْبُهُ.

Barangsiapa setelah mendengar adzan mengucapkan, ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya. Aku ridha Allah sebagai Rabb, Muhammad sebagai rasul, dan Islam sebagai agama,’ maka dosanya akan diampuni.” HR. Muslim (an-Nawawi,4/86).

  • Demikian pula ketika pagi dan petang:

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ قَالَ حِيْنَ يُمْسِيْ:رَضِيْتُ بِللّٰهِ رَبًّاوَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًاوبِمُحَمَّدٍنَنٕيًّا،كَانَ حَقًّاعَلَى اللّٰهِ أَنْ يُرْضِيَهُ

Barangsiapa mengucapkan pada sore hari dzikir, ’ Aku ridha Allah sebagai Rabb, Muhammad sebagai rasul, dan Islam sebagai agama,’maka wajib bagi Allah untuk meridhainya.” HR.at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Salim al-Hilali dalam Shahih al-Wabil ash-Shayyib. a)

a) Dan ini juga bisa diucapkan pada pagi hari. Lihat Sunan Ibnu Majah, no 3860, dan judul Bab Sunan at-Tirmidzi pada hadits, no. 3311.

Apabila seorang hamba menempuh sebab-sebab ridha kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Rasul, pasti ia akan mencicipi nikmat Iman serta merasakan manisnya taat.

3. Di antara faktor penyebab terealisasinya nikmat Iman adalah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ثَلَاثٌ مَنْ فَعَلَهُنَّ فَقَدْطَعِمَ الْإِيْمَانَ:مَنْ عَبَدَ اللّٰهَ وَعَلِمَ أَنَّهُ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَ أَعْطَى زَ كَاةَ مَ الِهِ طَيِّبَةًبِهَانَفْسُهُ وَزَكّى نَفْسَهُ.

Ada tiga perkara, barangsiapa melakukannya pasti akan merasakan nikmatnya Iman; barangsiapa beribadah kepada Allah dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada tuhan (yang haq) kecuali Allah, mengeluarkan zakat hartanya dengan senang hati, dan yang menyucikan dirinya.” (Shahih al-Jami’ ash-Shaghir).

4. Diantara sebab-sebab tersebut, menginggalkan berlebih-lebihan dalam makanan, minuman, bicara, dan pandangan.

Karena hal itu akan berakibat kerasnya hati, sehingga orang yang beriman tidak akan merasakan lezatnya ketaatan. Di mana banyak makan dan minum menyebabkan malas dan tidur, lalu dia tidak akan merasakan nikmatnya ketaatan. Demikian pula, banyak bicara dapat menimbulkan jatuh dalam dosa, lalu hati keras, dan dia tidak dapat lagi merasakan nikmatnya ketaatan.

5. Termasuk dari sebab-sebab merealisasikan nikmatnya Iman dan manisnya ketaatan adalah jauh dari dosa dan maksiat.

Maksiat menyebabkan hati menjadi keras, dan akan menghalangi hamba dari berbuat taat dan qurbah (ibadah mendekatkan diri).

Tinggalkan dosa, yang kecil dan yang besar, itulah takwa

Lakukanlah bak orang berjalan di atas tanah berduri, hati-hati terhadap sesuatu yang dia lihat

Jangan abaikan dosa kecil, sesungguhnya gunung itu asalnya kerikil

Meninggalkan dosa dan maksiat menghidupkan hati, dan apabila hati hidup, maka hamba akan mencicipi manisnya taat.

Kulihat dosa mematikan hati, dan kadang candunya melahirkan hina

Meninggalkan dosa adalah menghidupkan hati, dan kamu lebih baik melawannya

Ibnul Qayyim berkata dalam al-Jawab al-Kafi (hal.58), “Keburukan memiliki (bentuk ciri) hitam di wajah, gelap di hati, lemah di fisik, kebencian di hati makhluk, dan kurang dalam rizki. Sementara kebaikan memiliki (bentuk ciri) cahaya pada wajah, sinar pada hati, lapang dalam rizki, dan kecintaan di hati makhluk.”

Terakhir, Iman memiliki sensasi manis dalam hati, dan sesungguhnya taat mempunyai rasa nikmat yang tidak akan dirasakan kecuali oleh orang yang diberikan taufik oleh Allah lalu melakukan sebab kausalitas yang dengannya manis dan rasa nikmat ini dapat terealisasi. Apabila dia telah merasakannya niscaya dia akan berjuang lebih banyak lagi dalam menunaikan ketaatan-ketaatan dan melaksanakan kewajiban-kewajiban serta meninggalkan larangan-larangan, dan ketaatan akan menjadi mudah dan gampang lantaran rasa nikmat dan manis ini.

Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar menganugrahi kita manisnya Iman dan nikmatnya taat.

Dan akhir doa kami, “Segala puji bagi Allah, Rabb Semesta alam.”

Disalin dari :

Ibrahim Abdullah bin Saif al-Mazru’i. 2005. Kumpulan Ceramah Pilihan Menggugah Jiwa Menyentuh Kalbu. Jakarta : Darul Haq.

[1] https://tafsirweb.com/3988-quran-surat-ar-rad-ayat-28.html

[2] https://tafsirweb.com/7655-quran-surat-al-ahzab-ayat-43.html

[3] https://tafsirweb.com/1597-quran-surat-an-nisa-ayat-65.html

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *