Manisnya Iman dan Nikmatnya Taat

Mukadimah

Segala puji milik Allah, Rabb alam semesta. Shalawat dan salam (semoga tercurah) kepada sang penutup para nabi dan rasul. Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya.

Wa ba’du,

Allah Taala berfirman,

فَمَن تَبِعَ هُدَاىَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Barang siapa yang mengikuti petunjukKu, niscaya tidak akan ada kekhawatiran atas mereka, serta mereka tidak akan bersedih hati.” (Al-Baqarah:38).

Allah telah memberi jaminan bagi orang-orang yang mengikuti manhajNya untuk memberinya kehidupan yang bahagia, melindunginya dari rasa takut, gundah, dan sedih di dunia, serta memberinya penghidupan yang penuh dengan rasa tenang dan tentram.

Kebahagiaan yang hakiki bukan pada kekayaan, kehidupan mewah, dan limpahan harta dunia, melainkan kebahagiaan itu ada pada berjalan di atas manhaj Allah Ta’ala.

Tidaklah aku melihat bahagia dengan mengumpulkan harta, tetapi orang yang bertakwa adalah yang bahagia.

Sesuatu yang mendera manusia berupa keresahan, gelisah, penyakit-penyakit jiwa dan syaraf, serta sulit tidur, tidaklah ia melainkan buah alamiah karena jauh dari manhaj Allah Ta’ala serta bergantung kepada selain Allah.

Ibnul Qayyim berkata, “Susah, gelisah, sedih dan perasaan sempit merupakan siksa yang disegerakan dan neraka dunia. Sedangkan kembali kembali kepada Allah, taubat, ridha, dan memenuhi hati dengan rasa cinta kepadaNya, senantiasa menyebutNya, senang dan bahagia dengan ma’rifatNya adalah pahala yang disegerakan dan merupakan surga dunia serta hidup yang tidak sebanding sedikitpun dengan kehidupan para raja.” (Al-Wabil ash-shayyib).

Berjalan di atas manhaj Allah Ta’ala serta kembali kepadaNya akan menimbulkan buah-buah yang disegerakan di dunia dan karunia yang banyak dari Allah bagi hambaNya yang Mukmin.

Di Antara Buah-buah Tersebut Adalah Manisnya Iman dan Nikmatnya Ketaatan

Dalam Ash-Shahihain, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

ثَلاَثٌ مَنْ کُنَّ فِيْهِ وَخَدَحَلاَوَةَالْإَيْمَانِ؛أَنْ يَكُوْنَ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّاسِوَاهُمَاوَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَلَايُحِبُّهُ إِلَّالِلّٰهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَفِي الْكُفْرِكَمَايَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّا رِ

Ada tiga perkara yang mana barangsiapa tiga perkara itu ada pada dirinya, niscaya dia akan menemukan manisnya Iman; hendaklah Allah dan RasulNya lebih dia cintai daripada selainnya, hendaklah dia mencintai seseorang yang mana tidaklah dia mencintainya melainkan karena Allah, dan hendaklah dia benci kembali kepada kekufuran sebagaimana dia benci dilemparkan ke dalam api.

An-Nawawi rahimahullah berkata ketika menjelaskan hadits ini dari Muslim, “Makna manisnya Iman adalah menikmati ketaatan dan memikul beban dalam menggapai ridha Allah Ta’ala.”

Jadi, Iman memiliki rasa manis, ketaatan memiliki (sensasi) nikmat, dan ibadah punya kebahagiaan dan kelegaan.

Kenikmatan ibadah adalah apa yang didapati seorang Muslim berupa kelegaan jiwa, kebahagiaan hati, kelapangan dada, serta keluasan hati ketika ibadah dan setelah selesai darinya.

Kenikmatan ini berbeda-beda dari orang yang satu dengan orang yang lain, sesuai kuat dan lemahnya Iman masing-masing. Kenikmatan ini akan terealisasi dengan terwujudnya sebab kausalitas dan akan sirna dengan hilangnya sebab kausalitasnya.

Sebelum menyebutkan sebab kausalitas merealisasikan manisnya iman dan nikmatnya ibadah, kita paparkan terlebih dahulu beberapa renungan dari sirah nabawi dan kehidupan salaf.

Beberapa Situasi dari Sirah Nabawi dan Kehidupan Salaf.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Bilal,

.قُمْ يَابِلاَلُ،فَأَرِحنَابِالصَّلَاةِ

Bangkitlah wahai Bilal! Lalu Legakanlah kami dengan shalat.

Yang demikian itu, karena nikmat dan kebahagiaan hati yang beliau dapati di dalamnya, karena itu beliau shalat malam hingga kedua kakinya bengkak. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

.وَخُعِلَتْ قُرَّةُعَيْنِيْ فِي الصَّلَاةِ…

“…dan dijadikan penyejuk mataku pada shalat.”

Inilah Mu’adz bin Jabal radliyallahu ‘anhu, dia menangis menjelang kematiannya. Dia berkata, “Sesungguhnya aku menangisi (perpisahan dengan) dahaga terik siang dan bangun di malam musim dingin serta berkompetisi dengan para ulama pada halaqah dzikir.”

Beliau radliyallahu ‘anhu, menemukan kenikmatan dan kebahagiaan pada puasa hari-hari yang panas, qiyamul lail pada musim dingin dan malam-malam yang dingin, serta merasakan kenikmatan dan kebahagiaan majelis-majelis ilmu.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sungguh, di dunia terdapat surga, barang siapa tidak memasukinya (di dunia), maka tidak akan memasuki surga akhirat.”

Surga ini adalah nikmatnya taat dan manisnya Iman.

Salah seorang salaf berkata, “Sungguh, beberapa waktu telah melewatiku, aku berkata padanya, ‘ Jika penduduk surga berada pada yang seperti ini, sungguh mereka benar-benar dalam hidup yang indah’.”

Yang lain berkata, “Orang-orang miskin dari orang-orang yang lalai keluar dari dunia, sedang mereka tidak pernah mengecap sesuatu yang terlezat padanya.”

Yang lain lagi mengatakan, “Seandainya para raja dan putra mahkota tahu apa yang kita rasakan, niscaya mereka akan memerangi kita dengan pedang untuk mendapatkannya.”

Lalu, Apakah sebab Kausalitas untuk Merealisasikan Sensasi Nikmat dan Rasa Manis Ini?

Mencintai Allah Ta’ala dan mencintai RasulNya Shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan menunaikan hak Allah dan hak RasulNya:

Dalam ash-Shahihain, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَخَدَحَلَاوَةَالْإِيْمَنِ؛أَنْ يَكُوْنَ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّاسِوَاهُمَاوَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَلَايُحِبُّهُ إِلَّالِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَفِيالْكُفْرِكَمَايَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّرِ.

Ada tiga perkara yang mana barangsiapa tiga perkara itu ada pada dirinya niscaya dia akan menemukan manisnya Iman; hendaknya Allah dan RasulNya lebih dia cintai daripada selainnya, hendaknya dia mencintai seseorang, di mana tidaklah dia mencintainya melainkan karena Allah, dan hendaknya ia benci kembali kepada kekufuran sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam api.” Muttafaq’alaih; Al-Bukhari (no.21); dan Muslim (no.43).

Adapun mencintai Allah, maka Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Ighatsah al-Lahfan (2/197), “Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai hati daripada PenciptaNya. Dia-lah sesembahannya, Rabbnya , dan Pemberi rizkinya. Maka, kecintaan kepadaNya adalah kenikmatan jiwa dan kebahagiaannya. Tidak ada hati yang salim (selamat) sesuatu yang lebih manis, yang lebih lezat, yang lebih enak, dan yang lebih nikmat daripada rasa cinta dan ramah kepadaNya. Rasa manis yang didapati seorang Mukmin dalam hatinya dengan hal itu di atas segala yang manis.”

Sebab itu, sebagian salaf berkata, “ Sungguh, beberapa waktu akan lewat pada hati, yang di dalamnya ia bergetar hebat karena kedekatannya kepada Allah dan cintanya kepadaNya.”

Yang lain mengatakan, “Yang paling nikmat di dunia adalah ma’rifat dan mencintaiNya, sedang yang paling nikmat di akhirat adalah melihatNya.”

Kuat dan lemahnya kemanisan mahabbatullah (mencitai Allah), serta plus minusnya adalah sesuai kuat dan lemahnya Iman, serta plus minusnya. Setiap kali Iman bertambah dan kuat, maka seorang Muslim akan merasakan manisnya Iman serta menemukan kenikmatan taat. Setiap kali kecintaan kapada Rabb dan Khaliqnya bertambah, bertambah pulalah manisnya Iman padanya.

Adapun kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka maknanya adalah menunaikan hak dalam hal taat, ittiba’, dan loyalitas.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata pada pembahasan tentang mahabbah dalam Madarij as-Salikin, “Tatkala banyak orang-orang yang mengklaim mahabbah, mereka dituntut menegakkan bukti atas keshahihan klaim tersebut.

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
[2]

Katakanlah, ‘Jika kalian (benar-benar) mencitai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,’(Ali Imran: 31).

Maka, semua makhluk pun mundur, sementara para pengikut al-Habib (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam) tetap konsisten dalam perbuatan, ucapan, dan akhlaknya.”

Kemudian setelah itu Ibnul Qayyim menyebutkan sebab kausalitas yang dapat mendatangkan kecintaan Allah dan RasulNya. Dia menyebutkan,

  • Membaca al-Qur’an dengan penuh tadabur dan pemahaman terhadap makna-maknanya.
  • Taqarub kepada Allah dengan amalan-amalan nafilah (sunnah) setelah yang fardhu.
  • Senantiasa berdzikir kepada Allah pada setiap kondisi.
  • Mendahulukan cintaNya atas cintamu ketika ada hembusan hawa nafsu yang menguasai.
  • Renungan hati kepada nama dan sifat-sifatNya.
  • Menyaksikan Kebaikan, karunia, dan nikmat-nikmatNya.
  • Luluh hati secara keseluruhan di hadapan Allah Ta’ala.
  • Berkhulwah denganNya Di akhir malam ketika Dia turun.
  • Duduk bersama orang-orang yang mencintai Allah lagi jujur.
  • Menjauhi segala sebab yang menghalangi antara hati dan Allah Ta’ala.

Maka, mahabbah Allah dan mahabbah RasulNya Shallallahu ‘alaihi wasallam termasuk sebab terpenting dalam merealisasikan Iman.

Disalin dari :

Ibrahim Abdullah bin Saif al-Mazru’i. 2005. Kumpulan Ceramah Pilihan Menggugah Jiwa Menyentuh Kalbu. Jakarta : Darul Haq.

[1] https://tafsirweb.com/326-quran-surat-al-baqarah-ayat-38.html

[2] https://tafsirweb.com/1163-quran-surat-ali-imran-ayat-31.html

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *