TAWAKAL ADALAH KEBUTUHAN JIWA & RAGA KITA

TAWAKAL ADALAH KEBUTUHAN JIWA & RAGA KITA

 

بســـــم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، أما بعد:

 

TENTANG TAWAKAL

 

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan “Tawakal adalah benarnya penyandaran hati pada Allah ‘azza wa jalla untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya baik dalam urusan dunia maupun akhirat, menyerahkan semua urusan kepada-Nya serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa ‘tidak ada yang memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata‘.”(Jami’ul Ulum wal Hikam tatkala menjelaskan hadits no. 49 / https://muslim.or.id/506-tawakal-yang-sebenarnya.html)

 

Tawakal merupakan sifat yang cukup sulit untuk digapai, sebab bercampur akal dan logika seringkali tawakal menjadi lemah karna hati kita tidak bersandar kepada Allah melainkan kepada situasi atau akal kita saja. Tanpa disadari jika hal tersebut selalu terjadi pada diri kita, kita akan terjerumus ke dalam kesyirikan

seperti seseorang yang sangat bergantung pada majikannya dalam keberlangsungan hidupnya atau masalah rezekinya, semacam ini termasuk syirik ashgor (syirik kecil) karena kuatnya rasa ketergantungan pada sebab tersebut.
(Lihat At Tamhiid lisyarhi Kitabit Tauhid, 375-376; Syarh Tsalatsatil Ushul, 38; Al Qoulul Mufid, 2/29 / https://muslim.or.id/506-tawakal-yang-sebenarnya.html)

HATI BER-TAWAKAL KEPADA ALLAH SAJA NAMUN RAGA TETAP BERUSAHA

 

Tidak dibenarkan jika hatinya ber-tawakal tanpa disertai dengan usaha, jika kita perhatikan beberapa ayat Allah, sesungguhnya Allah menyuruh kita melaksanakan sebab dengan hati lurus ber-tawakal kepada Allah saja,  Allah kberfirman:

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا خُذُوْا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوْا ثُبَاتٍ اَوِ انْفِرُوْا جَمِيْعًا

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersiapsiagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) secara berkelompok, atau majulah bersama-sama (serentak).”

(QS. An-Nisa : 71)

 

Kalimat “Bersiapsiagalah kamu, dan majulah”adalah sebab yang Allah perintahkan agar pasukan jihad kaum muslimin bisa memenangkan pertempuran

 

Begitu pula dengan ayat-ayat yang lainnya (baca: Qs. Al-Anfaal : 60, Al-Jumu’ah : 10) (dinukil dari https://muslim.or.id/506-tawakal-yang-sebenarnya.html dengan sedikit perubahan)

 

PAHALA TAWAKAL

 

– Allah akan mencukupi kebutuhan dunia dan agamanya

 

Allah Ta’ala berfirman

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

 

“dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”( Qs. Ath-Thalaq : 3 )

 

Barang siapa menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya.

 

– Diberi petunjuk, dijaga dan dicukupkan oleh Allah

 

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

 

“Barangsiapa yang ketika keluar rumah membaca (zikir): Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi, walaa haula wala quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada-Nya, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya), maka malaikat akan berkata kepadanya: “(sungguh) kamu telah diberi petunjuk (oleh Allah Ta’ala), dicukupkan (dalam segala keperluanmu) dan dijaga (dari semua keburukan)”, sehingga setanpun tidak bisa mendekatinya, dan setan yang lain berkata kepada temannya: Bagaimana (mungkin) kamu bisa (mencelakakan) seorang yang telah diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga (oleh Allah Ta’ala)?”

 

(HR Abu Dawud (no. 5095) dan at-Tirmidzi (no. 3426), dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani.)

 

– Sebab dilimpahkannya rezeki

 

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Seandainya kalian bertawakal pada Allah dengan tawakal yang sebenarnya, maka sungguh Dia akan melimpahkan rezki kepada kalian, sebagaimana Dia melimpahkan rezki kepada burung yang pergi (mencari makan) di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang”

(HR Ahmad (1/30), at-Tirmidzi (no. 2344), Ibnu Majah (no. 4164), Ibnu Hibban (no. 730) dan al-Hakim (no. 7894), dinyatakan shahih oleh, at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, al-Hakim dan al-Albani.)

 

Setelah kita memahami makna, kebaikan yang akan ada diraih jika kita bertawakal kepada Allah maka kita akan sadar bahwa tawakal merupakan kebutuhan jiwa dan raga kita. Kita pun harus sadar bahwa dalam tawakal kita tidak boleh melakukan kesyirikan dan juga harus tetap melaksanakan sebab sesuai batasan syariat. Semoga Allah Ta’ala memberikan kita kemudahan serta kenikmatan agar kita selalu bertawakal kepada-Nya sehingga tidak ada Ujub dan sombong pada jiwa kita, dan hati kita selalu tenang karna kita selalu ber-tawakal kepada Allah Saja

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *