Waktu Dan Keadaan Diijabahnya Do’a Bagian Ketiga

Alhamdulillah puji syukur kita panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang masih memberikan kita taufik dan hidayah-Nya sehingga artikel lanjutan ini bisa tersampaikan hingga bisa antum baca dalam kesempatan ini.

Tak lupa shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam yang telah menjadi wasilah tersampaikannya wasilah syari’at Islam yang Allah karuniakan. Juga kepada keluarganya, para sahabat, para tabi’it tabi’in, hingga kepada kita semua yang berharap untuk terakui oleh beliau shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai umatnya.

Pembahasan kali ini akan meneruskan tentang waktu dan keadaan diijabahnya do’a bagian ketiga. Dimana ada 3 point yang akan dibahas, antara lain :

 

Saat  Lailatul Qodar

Banyak keterangan yang sudah menjelaskan tentang keutamaan dari Lailatur Qodar, seperti tempat berkumpulnya berbagai kebaikan, waktu dimana segala macam do’a dikabulkan, dan Lailatul Qodar itu telah diyakini oleh umat Islam sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan, sehingga setiap amalan baik sesuai syari’at yang dilakukan di malam tersebut, akan mendapatkan pahala berkali kali lipat.

Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an :

لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (Al-Qadr 97:3)

 

Maka dari itu, sebagai orang beriman yang meyakini haq-Nya semua perkataan Allah serta benarnya setiap janji Allah, tidak sepantasnya kita sia-siakan kesempatan yang amat berharga ini, diantaranya dengan melakukan i’tikaf, memperbanyak amalan sunnah, meningkatkan sedekah, berbuat baik kepada sesama, serta amalan baik lain yang sesuai dengan syari’at Allah dan Rasul-Nya.

Dan tak lupa kita pun memanjatkan do’a secara khusyu, khidmat, serta penuh ke-tawadhu-an ketika Lailatul Qadar. Yang semoga dengan wasilah berdo’a di malam yang Allah subhanahu wa ta’ala muliakan ini, bisa menjadi sebab turunnya pertolongan dan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.

 

3 Golongan Orang Yang Tidak Tertolak Do’anya

Poin ini bukan membahas tentang waktu diijabahnya do’a, melainkan keadaan manusia yang apabila disaat tersebut mereka memanjaatkan do’a, maka tidak ditolak do’anya.

Ketiga orang yang dimaksud dijelaskan lebih lanjut dalam hadits dibawah ini.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalaam bersabda : “Tiga golongan yang tidak ditolak do’anya : seorang imam yang adil, orang berpuasa hingga berbuka, dan do’a orang yang dizalimi. Do’a mereka itu akan diangkat Allah di bawah awan pada Hari Kiamat, dibukakan baginya pintu langit, dan Dia berfirman, ‘Dengan kemuliaan-Ku sungguh benar-benar Aku akan menolongmu sekalipun setelah beberapa waktu lagi.’”

[Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, no. 1752 dan dishahihkan Al-Albani. Lihat As-Silsilah, no. 1211]

 

Jadi, 3 keadaan orang yang apabila mereka berdo’a ketika itu, maka tidak ditolaknya do’a tersebut, adalah :

  1. Imam yang adil

  2. Orang yang berpuasa hingga berbuka

  3. Orang yang terzalimi

Dalil ini pun mengingatkan kita umat Islam agar berhati hati dalam berbicara, bersikap, bertingkah laku, serta saat mengambil keputusan. Agar jangan sampai apa yang kita lakukan, secara sengaja atau tidak sengaja bisa menjadi sebuah kezaliman untuk orang lain. Karena ditakutkan, ketika seseorang merasa terzalimi oleh kita, kemudian memanjatkan do’a yang tidak baik untuk kita.

 

Do’a Orang Yang Tiada Di Tempat (Gaib)

Keadaan yang terakhir dari pembahasan tentang waktu dan keadaan diijabahnya do’a adalah keadaan dimana seseorang mendo’akan saudaranya yang pada saat berdo’a tersebut saudaranya tidak ada di tempatnya.

Do’a seperti ini sangat makbul dan berpotensi besar dikabulkan oleh Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalaam :

 ‘Do’a seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang dido’akannya adalah do’a yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada Malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdo’a untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata: ‘Aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.’”

‘Abdullah berkata: “Lalu aku pergi ke pasar dan bertemu dengan Abud Darda’ Radhiyallahu anhu, lalu beliau mengucapkan kata-kata seperti itu yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

[Shahiih Muslim kitab adz-Dzikr wad Du’aa’ wat Taubah wal Istighfaar bab Fadhlud Du’aa’ lil Muslimiin bi Zhahril Ghaib (IV/ 2094 no. 2733 (88)]

Ada 2 keutamaan mendo’akan saudara kita yang jauh keberadaannya dari kita. Pertama, do’a tersebut mustajab. Dan kedua, malaikat akan meng-amin-kan kemudian mendo’akan kita untuk mendapatkan hal serupa untuk setiap do’a yang kita panjatkan.

Jadi, mari kita menjadi orang yang lebih semangat mendo’akan berbagai kebaikan untuk saudara-saudara kita yang jauh disana.

 

Tambahan :

Sebagaimana kita ketahui, bahwa saat ini Muslim Rohingya di Myanmar sedang ditimpa musibah berupa pengusiran dan pembantaian. Oleh karenanya, kami mengajak kepada setiap umat Islam untuk mendo’akan saudara kita disana supaya diberikan kesabaran serta segera didatangkan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala sehingga musibah tersebut bisa segera berakhir.

Insyaa Allah do’a yang dipanjatkan untuk saudara kita di Myanmar menjadi do’a mustajab yang menjadi wasilah turunnya rahmat dan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala.

 

***

 

Demikianlah informasi bagian ketiga dari pembahasan tentang waktu dan keadaan diijabahnya do’a.

Semoga apa yang disampaikan bisa memberikan faedah bagi para pembaca sekalian untuk sama-sama memanfaatkan fasilitas waktu dan keadaan mustajab untuk kita pergunakan berdo’a.

Yang benarnya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dan jika ada yang salah, mohon dibenarkan karena kesalahan tersebut sumbernya dari kami sebagai manusia yang tidak bisa luput dari salah.

Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: